<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119</id><updated>2011-05-20T05:00:55.622+07:00</updated><category term='berbenah'/><category term='bersyukur'/><category term='keseimbangan'/><category term='banjir'/><title type='text'>teddibelajarbersyukur</title><subtitle type='html'>Belajar, Bersyukur, Bekerja</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-4729163236802072260</id><published>2007-06-21T15:45:00.000+07:00</published><updated>2007-06-21T15:51:21.072+07:00</updated><title type='text'>Pindah Blog</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Dear Sobat-sobat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah posting terakhir saya di Blogger, karena sekarang saya pindah ke&lt;br /&gt;&lt;a href="http://belajarbersyukur.wordpress.com/"&gt;http://belajarbersyukur.wordpress.com.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, see ya there!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-4729163236802072260?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/4729163236802072260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=4729163236802072260' title='26 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/4729163236802072260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/4729163236802072260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2007/06/pindah-blog.html' title='Pindah Blog'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-6923460657573449489</id><published>2007-02-20T11:29:00.000+07:00</published><updated>2007-02-20T11:51:30.426+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berbenah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bersyukur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keseimbangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='banjir'/><title type='text'>Banjir: Bersedih atau Bersyukur?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Banjir di kotaku belum lagi usai. Jalanan yang sempat terendam memang sudah bisa kulalui lagi, namun tayangan terakhir menyampaikan masih ada air yang 'berontak' dan kembali menggenang di beberapa tempat. Pantas ataupun tidak, dalam hati kecil aku bersyukur rumahku sama sekali tidak tergenang air. Kukatakan pantas atau tidak, sebab sisi lain diriku mengatakan aku seharusnya tidak bersenang hati, sebab banyak orang masih menangisi musibah yang menimpa mereka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas di benakku, banjir adalah fenomena yang unik. Ia bisa dibilang adalah bencana sebab akibat yang dimunculkan begitu luar biasa--meskipun kita sudah bisa perkirakan kepastian datangnya. Namun hal yang menarik bagiku, lagi-lagi alam mengajarkan bahwa keseimbangan adalah prinsip yang ia pegang teguh. Ya, di kala beberapa orang harus kehilangan yang mereka miliki, seorang penarik gerobak bisa mendapatkan penghasilan ratusan ribu dalam sehari demi menolong orang-orang yang terpaksa keluar rumah (atau terjebak tidak bisa pulang?) di hari-hari itu. Kita boleh terenyuh melihat para pengungsi yang makan dan berpakaian seadanya, tapi kita tampaknya juga harus tersenyum gembira jika mengamati para montir yang kebanjiran order perbaikan kendaraan yang terendam air. Begitu pula kita harus prihatin dengan perusahaan asuransi (tempatku bekerja salah satunya) yang pusing tujuh keliling menangani klaim banjir, sekaligus kita harus turut bahagia membayangkan peningkatan premi yang mungkin didapat ketika banyak orang (dan korban) sudah semakin sadar pentingnya asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat ucapan seorang rekan ketika bertugas sebagai tim Crisis Center untuk membantu rekan-rekan yang rumahnya kebanjiran, "Alam itu luar biasa ya. Dia tidak terima dengan perlakuan kita yang membuang sampah sembarangan. Sekarang dia kembalikan tuh sampah semua sama kita." Bang! Rasa malu pun muncul dalam hatiku. Barangkali tumpukan sampah itu juga adalah kontribusiku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, aku pun masih bingung apakah harus bersyukur atau bersedih dengan banjir yang (lagi-lagi) menimpa kotaku ini. Kupikir-pikir, mungkin tak seharusnya aku memilih. Bersedih sembari mensyukuri boleh juga kan? Toh bersyukur sejatinya adalah belajar, merenung, dan bertindak untuk memaksimalkan potensi dan perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya berbenah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-6923460657573449489?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/6923460657573449489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=6923460657573449489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/6923460657573449489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/6923460657573449489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2007/02/banjir-bersedih-atau-bersyukur.html' title='Banjir: Bersedih atau Bersyukur?'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-117020849902361632</id><published>2007-01-31T08:54:00.000+07:00</published><updated>2007-01-31T08:57:19.486+07:00</updated><title type='text'>Learn To Be Trusted</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seorang guru baru saja kutemukan. Stephen M. R. Covey namanya. Pernah dengar? Tidak heran, sebab namanya mirip dengan penulis buku laris The 7 Habits, Stephen R. Covey. Bagi yang pernah membaca buku legendaris itu tentu tidak asing dengan kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;green and clean&lt;/span&gt; yang dikisahkan Mbah Covey untuk menjelaskan tentang strategi melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;empowerment&lt;/span&gt; yang efektif. Nah, si Stephen M. R. Covey inilah anak yang menjadi tokoh dalam kisah tersebut. Dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Speed of Trust&lt;/span&gt; yang baru saja kubaca itu, Stephen Jr. ini menjelaskan makna kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;green and clean&lt;/span&gt; dari sudut pandangnya sebagai anak kecil. Ia tidak paham apa itu delegasi tugas, yang ia tahu adalah bahwa ia diberi kepercayaan oleh ayahnya. Perasaan dipercaya inilah yang mengantarnya menjadi pribadi yang dapat dipercaya sepanjang hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Satu pelajaran dalam buku itu yang menggelitik pikiranku adalah kisahnya tentang beberapa bulan menangani sebuah proyek yang menantang sehingga membuatnya harus tidur sampai pukul 2-3 dini hari. Karena tetap ingin bangun pagi untuk melakukan olahraga, ia mengeset alarm lebih awal dari jam ia seharusnya bangun untuk kembali beraktivitas. Apa yang terjadi? ia hanya bangun untuk kemudian kembali mematikan alarm tersebut dan kembali tidur. Pengalaman ini memberinya pelajaran penting: jangan sekali-kali memungkiri apa yang kamu tahu tidak dapat kamu laksanakan. Ia tahu betul bahwa kondisinya memang tidak memungkinkan untuk bangun dan berolahraga, namun ia bersikap seolah-olah ia pasti dapat melakukan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat pernah ada masanya aku juga mengeset jam tangan dan jam dinding di rumahku lebih awal dari waktu yang sebenarnya, terpengaruh oleh saran beberapa orang agar aku tidak terlambat untuk beraktivitas. Yang terjadi kemudian persis sama dengan yang dialami oleh Stephen, tidak pernah sekalipun aku berangkat tepat pada waktunya (baca: sesuai waktu yang tertera pada jam tanganku). Aku malah makin rajin datang terlambat karena salah memperhitungkan berapa menit jamku kupercepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, efek dari perilaku model begini ternyata tidak hanya sampai disini. Stephen memberikan 2 pencerahan mengenai hal ini. Pertama, diri kita sejatinya selalu berintensi untuk jujur terhadap segala hal. Secerdik apapun otak kita memprogram perilaku yang tampak, pasti akan ada titik yang memungkinkan diri kita yang asli untuk menunjukkan kesejatiannya. Kalaupun dipaksakan, maka akan terjadi ketidaksesuaian yang parah dan berujung pada jiwa yang sakit. Kedua, ketidaksesuaian yang tercipta dari perilaku demikian akan menurunkan tingkat kepercayaan kita terhadap diri kita sendiri. Perlahan-lahan, keberanian kita untuk melakukan sesuatu akan menurun drastis. Keyakinan diri berkurang, begitu pula keyakinan kita terhadap orang lain. Nah, jangan tanya keyakinan orang lain terhadap kita kalau sudah begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Stephen, menjadi pemimpin (bagi diri kita sendiri sekalipun) adalah masalah membangun kepercayaan. Dan itu berarti mengambil tindakan sekarang untuk memenuhi janji kita terhadap diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...mau membetulkan jam kita sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-117020849902361632?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/117020849902361632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=117020849902361632' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/117020849902361632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/117020849902361632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2007/01/learn-to-be-trusted.html' title='Learn To Be Trusted'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-117012364319832168</id><published>2007-01-30T09:20:00.000+07:00</published><updated>2007-01-30T09:24:05.273+07:00</updated><title type='text'>Setengah dan Setengah</title><content type='html'>&lt;style&gt;&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tiga minggu menjalani 'hidup baru'-ku setiap detik serasa menghadirkan beragam pencerahan dalam hati. Beberapa kebiasaan tentu berubah, mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi, selimut penutup keaslian masing-masing diri terbuka tanpa mampu ditutup lagi. Seperti pernah kuutarakan, menikah memang adalah anugerah kebebasan dari Tuhan yang luar biasa, tempat 2 orang saling menumpahkan segenap kemurniannya. Hmm...tidak selalu demikian memang. Pernikahan yang disebabkan oleh perjodohan yang dipaksakan atau nafsu tanpa pertimbangan logika dan didasari cinta yang tulus adalah contoh yang amat mungkin menelurkan hasil sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sedikit demi sedikit, beberapa bagian dari diriku terasa bertumbuh. Di tengah kekuranganku dalam hal pengambilan keputusan, aku belajar untuk lebih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;decisive&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, karena akulah kepala keluarganya sekarang. Kewajiban untuk shalat berjamaah dan menjadi imam adalah pelatihan yang luar biasa untuk mengasah jiwa kepemimpinanku. Tidak lagi aku bisa mempelajari suatu ilmu tanpa membaginya kepada istriku, sebab demikianlah layaknya seorang pemimpin mendidik pengikutnya. Tidak lagi aku bisa menggunakan penghasilan semauku, karena ini bukanlah milikku seorang lagi sekarang. Belum lagi keseimbangan yang harus kujaga dengan ibuku yang sedikit banyak pastilah memiliki rasa cemburu dengan kebersamaanku bersama orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sejenak kemudian, aku pun teringat pada ajaran Rasulullah: menikah berarti meraih setengah agama. Tidak pernah aku mendapat pencerahan akan ajaran ini sebelumnya. Ya. Inilah sisi lain dari mata uang menikah adalah meraih kebebasan. Tidak saja kita bebas menentukan apapun jalan yang akan kita tempuh dalam mengarungi bahtera pernikahan itu, melainkan juga hasil akhir sudah mulai terlihat: gunakan kebebasan dengan semestinya, dan setengah agama sudah di tanganmu. Jadilah pemimpin, bimbinglah pengikutmu, curahkanlah setengah hidupnya untuknya, jadikanlah mereka bagian kehidupan yang berarti bagi banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dimana yang setengah lagi? Jawabnya terletak pada ajaran lain: jika seseorang mati, hanya ada tiga hal yang bermanfaat baginya di akhirat; anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang pernah diberikannya. Sebuah ajaran yang juga sudah ditemukan oleh ilmu pengetahuan saat ini: kualitas kepemimpinan seseorang hanya bisa dilihat setelah orang itu meninggalkan pengikutnya. Bukanlah seorang pemimpin yang sukses jika pengikutnya terus bergantung pada kemampuannya dan tidak pernah mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-117012364319832168?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/117012364319832168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=117012364319832168' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/117012364319832168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/117012364319832168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2007/01/setengah-dan-setengah.html' title='Setengah dan Setengah'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116650350145445671</id><published>2006-12-19T11:44:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T11:41:12.560+07:00</updated><title type='text'>Pernikahan Menuju Kebebasan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kurang dari 3 minggu menjelang hari H-ku, sebuah film disuguhkan kepadaku di malam minggu kemarin. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebatas Aku Mampu&lt;/span&gt;, judulnya. Berkisah tentang pasangan muda, Ayub dan Ros, yang membina rumah tangga dengan keunikan masing-masing. Ros adalah seorang sekretaris pada sebuah perusahaan baru, pekerja keras, rajin, dan pintar, membuatnya dapat memperoleh peningkatan karir dengan cukup cepat. Ayub, pegawai negeri dengan keinginan dan pola pikir yang amat sederhana, menjalani hari-harinya begitu damai dan santai dengan memancing bersama sahabatnya dan mengurus ayam sepulang ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpahaman akan keunikan masing-masing belum terasa ketika pada awal cerita mereka masih mampu mengkompromikan banyak hal. Ros tidak pernah menyukai ayam-ayam peliharaan Ayub dan mengusulkan untuk memelihara anjing saja. "Anjing tidak bisa bertelor," jawab Ayub ketika itu. Namun berjalan waktu, karier Ros yang semakin menanjak rupanya menggelitik Ayub yang stagnan. "Kita tidak pernah lagi ngobrol Ros," ujar Ayub satu kali. "Abang yang terlalu sibuk dengan ayam-ayam Abang," balas Ros. Bagaimanapun, Ros tetap membutuhkan kegemaran Ayub memancing, sebab suami bosnya ternyata juga amat gemar memancing. Kesederhanaan dan filosofi memancing Ayub telah memikat hati suami sang bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik muncul ketika keunikan masing-masing tidak dihargai dan dimaknai sebagai bagian hidup yang sewajarnya. Ros merasa suaminya tidak mau berkembang, Ayub merasa istrinya terlalu lugu sehingga mudah dimanfaatkan. Sebagaimana kisah-kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;happy ending&lt;/span&gt;, Ros akhirnya mengetahui bahwa sang bos rupanya ingin menjodohkan ia dengan anak lelakinya yang beberapa tahun belakangan kehilangan istrinya yang meninggal. Ayub sudah pernah mengingatkan hal ini, "Menurutmu tidak aneh, ada seorang sekretaris tiba-tiba diangkat menjadi manajer?" Ros yang merasa direndahkan kontan meledak, "Jadi menurut Abang aku tidak pantas mendapatkan jabatan itu?" Pertengkaran pun berlanjut namun berakhir dengan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romantis bagi sebagian orang, buatku kisah dalam film itu amat mencerahkan. Beberapa jam sebelumnya, terlintas dalam pikiranku bahwa pernikahan berarti kebebasan memilih. Ayub dan Ros yang begitu berbeda memilih untuk bersatu karena cinta yang mereka rasakan. Betapa tidak? Baik agama maupun budaya secara umum mengajarkan batasan-batasan di antara sesama saudara kandung sekalipun. Bahkan ayah dan ibu juga tetap harus memiliki 'jarak' dengan anaknya dalam hal-hal tertentu yang merupakan privasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pernikahan? Yang terjadi justru sebaliknya. Sepasang suami istri bebas berbagi apapun tanpa ada batasan&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; sama sekali. Pada orang asing itulah seseorang membuka rahasianya yang paling dalam dan mengukir masa depan bersama. Sungguh sebuah kebebasan yang luar biasa. Manusia adalah khalifah, sang penentu arah perkembangan dunia, karenanya ia tidak boleh dibelenggu semata-mata oleh hubungan sedarah. Kesempurnaan seseorang akan muncul ketika ia menyempurnakan kehidupannya dengan kehadiran seorang pasangan hidup, karena itulah ia harus memilih sendiri sang pasangan sejati. Visi masa depan yang besar tentu harus dicapai dengan regenerasi yang baik karena terbatasnya usia, maka dari itulah seseorang diberi kekuasaan penuh untuk mencari bibit terbaik generasi penerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...jika aku sempat membayangkan pernikahan adalah kesenangan berdua, rupanya aku salah. Sebuah pernikahan adalah penopang kehidupan. Memilih pasangan, memilih arah rumah tangga, memilih apa yang akan dimakan, memilih akan menyekolahkan anak dimana, memilih mencari sumber penghidupan apa, adalah rentetan kebebasan berikutnya. Selayaknya sebuah kebebasan, hasil akhir tentu harus dipertanggung jawabkan. Inilah yang membuat hatiku bergetar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116650350145445671?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116650350145445671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116650350145445671' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116650350145445671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116650350145445671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/12/pernikahan-menuju-kebebasan.html' title='Pernikahan Menuju Kebebasan'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116556371943357988</id><published>2006-12-08T14:41:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T11:48:48.836+07:00</updated><title type='text'>Bangsa Survival dan Bangsa Inovator</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Agak ketinggalan zaman, aku baru saja membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Angel &amp; Demon&lt;/span&gt;-nya Dan Brown. Novel pertamanya yang baru ketahuan bagus setelah kehebohan yang dimunculkan 'adik'-nya si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Da Vinci Code&lt;/span&gt; ini ternyata juga luar biasa jenius. Diceritakan bahwa Robert Langdon, sang ahli simbologi yang juga menjadi tokoh utama dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Da Vinci&lt;/span&gt; menerima permintaan untuk mengungkap pembunuhan seorang fisikawan terkenal. Penyelidikannya membawa pada sebuah kelompok Illuminati, kelompok yang telah berusia ratusan tahun, diisi oleh para jenius pecinta ilmu pengetahuan namun dibenci oleh kalangan gereja karena penemuan mereka banyak menjatuhkan doktrin-doktrin yang diajarkan oleh gereja. Penelitian Langdon sekian tahun mengatakan kelompok ini sudah lama punah, namun fakta-fakta yang muncul mengiringi penyelidikannya terhadap pembunuhan sang fisikawan mengatakan sebaliknya. Illuminati masih hidup, bahkan lebih kuat, terselubung, dan memiliki jaringan luar biasa sampai pada level kepala negara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Petualangan seru pun berlanjut, diiringi dengan sekian banyak pembunuhan terhadap kandidat Paus. Hasil akhirnya, pelayan setia Paus yang baru meninggal, merekayasa semua kejadian tersebut. Mengapa ia melakukannya? Amat unik, ia sama sekali tidak menginginkan kekuasaan. Ia hanyalah seorang pelayan yang taat dan ingin mengembalikan wibawa gereja. Ia tidak rela jika ilmu pengetahuan membuat agama menjadi tidak berarti dengan membuat semua ayatnya logis dan dapat dijangkau oleh nalar. Untuk itulah, ia bangkitkan kembali kelompok yang sudah ratusan tahun dianggap bubar itu dan membangkitkan rasa takut pada orang banyak. "Lihat, ribuan orang berkumpul di sana, duduk bersama dan berdoa," demikian salah satu kalimat yang diluncurkan oleh sang pelayan ketika perbuatannya terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari segala kontroversi sang penulis, aku menangkap sesuatu yang menarik dari rencana sang pelayan Paus. Ia menciptakan rasa takut dalam hati banyak orang, agar mereka ingat dan bersatu. Menarik, sebab metode ini memang salah satu yang dianggap oleh orang banyak sebagai metode ampuh untuk memunculkan persatuan. Mulai dari Soeharto yang menciptakan PKI, Amerika menciptakan Al Qaida, sampai kalangan terpelajar (baca: mahasiswa) menciptakan OPSPEK (perploncoan), semua mengangkat tema yang sama: dalam keadaan terdesak orang akan bersatu. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah menganggapnya benar. Ketika SMA, aku pernah menjadi bagian dari pelatihan kepemimpinan OSIS yang menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fear management&lt;/span&gt; seperti ini. Hanya saja, belakangan aku pelajari pengalaman itu, ada satu hal yang rupanya lupa untuk dikaji oleh mereka yang menerapkan metode ini: kualitas kesatuan yang diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa ketika kita kepepet, akan ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shortcut&lt;/span&gt; yang membuat banyak informasi dalam otak mencari segala kemungkinan pemecahan dengan lebih cepat. Bahkan, situasi kepepet ini mampu membuat seseorang mampu memanjat sebuah tembok tinggi ketika sedang dikejar anjing. Masalahnya, keadaan mendesak hanya akan menggunakan informasi yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sudah&lt;/span&gt; tersedia dalam otak kita, termasuk potensi fisik yang kuat. Jadilah pola pikir primitif ini sama sekali tidak dapat bekerja untuk memunculkan hasil &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kreatif &lt;/span&gt;yang hanya bisa muncul ketika otak berada dalam kondisi relaks, yaitu ketika gelombang alfa-nya bekerja. Keputusan kreatif membutuhkan tidak saja informasi yang sudah ada tapi juga informasi yang belum didapat bahkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;belum ada&lt;/span&gt;. Jelas, imajinasi dibutuhkan disini, sesuatu yang tidak akan muncul ketika seseorang sedang dikejar anjing&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;So&lt;/span&gt;, yakinlah sekelompok orang dapat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survive&lt;/span&gt; dalam kondisi kritis yang mendesak, tapi di saat lain mereka tidak akan menghasilkan inovasi apapun dalam keadaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, metode inilah yang populer baik di kalangan praktisi maupun akademisi. Sebuah PR besar menanti: menjadikan pola pikir kreatif ini minimal sejajar dengan pola pikir primitif. Pilihan pun muncul, menjadi bangsa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survival&lt;/span&gt; atau inovator? Aku yakin kita menginginkan keduanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survanovator&lt;/span&gt;. Tangguh saat keadaan mendesak, cerdas saat keadaan berubah. Hanya, saat ini memang masih pincang sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116556371943357988?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116556371943357988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116556371943357988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116556371943357988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116556371943357988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/12/bangsa-survival-dan-bangsa-inovator.html' title='Bangsa Survival dan Bangsa Inovator'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116467953147277465</id><published>2006-11-28T09:05:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T11:54:23.900+07:00</updated><title type='text'>Bakso Bang Eric</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jum'at malam. Aku mampir ke Gramedia Matraman sepulang kantor. Kondisi perut belum terisi, aku pun teringat ada penjual bakso yang cukup enak di toko buku itu: "Bakso Bang Eric". "Bakso 2, pakai mihun, yang satu pakai bakso telur yang satu lagi biasa ya Bang," ucapku memesan seperti biasa. Tidak sampai 5 menit, pesananku pun diantar dan air liurku tak tertahankan ketika aku mendahuluinya dengan ritual mencampurkan saus, kecap, dan sambal. Seolah tak sabar bekerja, perut pun menggeliat meminta ritual itu segera kusudahi saja. Aku menurut, kemudian memulainya dengan menyantap mi terlebih dulu. Persis seperti gaya makan ayahku, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;save the best for last&lt;/span&gt;. Bakso yang nikmat itu selalu kujadikan penutup sehingga aku bisa mengingat rasanya sampai paling tidak beberapa jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba seseorang berseru, "Ada Kamtib! Ada Kamtib!" Para penjual pun panik, dan bergegas membereskan barang dagangannya. Sedikit beruntung bagi Bang Eric, ia memiliki cukup banyak tim untuk bergerak cepat memindahkan segala sesuatunya ke pelataran sebuah gedung di belakang tempatnya berjualan. Cukup berat bagi ibu penjual soto di sebelahnya, sendirian ia harus berkemas sebelum kehilangan gerobak satu-satunya penopang penghidupannya itu. Aku sedikit panik, namun segera reda melihat beberapa pembeli yang juga tenang. "Toh, kita kan pembeli. Masak mau ditangkap juga," pikirku. Namun melihat kondisi yang kacau, diselingi dengan bunyi beberapa piring dan mangkok yang pecah terjatuh karena terburu-buru, mangkuk bakso pun kubawa ke tempat mereka mengungsi sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari duduk menghabiskan baksoku yang sudah berkurang kenikmatannya, pandanganku tertuju pada para pedagang itu. Sebuah pertanyaan mencuat dalam benakku: seberapa seringkah mereka mengalami hal seperti ini? Terkenang peristiwa tahun 1998 lalu, cukup banyak isu mengenai akan adanya penyerangan pada suatu tempat namun tidak pernah terbukti. Bukan tidak mungkin hal seperti itu pun terjadi pada para pedagang ini. Mereka yang sehari-harinya berada dalam ketidakpastian akan datangnya pelanggan, pelanggan yang menurun drastis akibat hujan deras, isu bakso tikus dan formalin, sampai resiko setiap saat digrebek Kamtib, tampak begitu rapuh di hadapanku. Sejenak kepalaku tertunduk menatap potongan bakso terakhir, dan suatu perasaan haru muncul dalam hati: duhai bakso nikmat di hadapanku, seberat ini kah perjuanganmu hanya untuk sesaat menghadirkan kekenyalan dalam mulutku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku pun melayang mulai dari warung pinggir jalan tempat aku membeli teh botol saat kehausan sampai ke penjual somay langgananku. Betapa setiap tetes yang menghilangkan dahagaku dan setiap suap yang melenyapkan laparku berisi tetesan keringat orang-orang yang berlarian menjajakannya. Bahkan para produsen barang jajaan mereka pun barangkali tidak pernah menyadari bahwa pundi-pundi mereka bisa terisi penuh karena sandal jepit butut itu mondar mandir kesana kemari demi menyambung hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela napas, suapan terakhir pun masuk dan kukunyah penuh kenikmatan. Tegukan teh botol terakhir menuntaskannya tak lama setelah itu. Kuambil selembar uang dan kuberikan pada salah seorang dari mereka sembari mengembalikan mangkuk. "Bakso 2, teh botol 2," jelasku. Kutinggalkan ia ketika secara tergesa ia berusaha merogoh kantung untuk mengambil uang kembalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Bang Eric...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116467953147277465?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116467953147277465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116467953147277465' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116467953147277465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116467953147277465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/11/bakso-bang-eric.html' title='Bakso Bang Eric'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116356256585363475</id><published>2006-11-15T10:48:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:35:59.763+07:00</updated><title type='text'>Pemimpin  Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Beberapa hari belakangan aku 'terpaksa' naik mobil ke kantor setiap hari--sebuah kebiasaan yang setahun ini berusaha aku minimalisasi demi meningkatkan frekuensi membaca (sehingga aku lebih memilih naik bis) dan tentunya efisiensi dari segi pengeluaran. Melewati Mampang menuju Warung Buncit orang-orang tentu sudah tidak heran dengan apa yang akan mereka lihat: sebuah proyek pembangunan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;busway&lt;/span&gt; yang menimbulkan macet plus resiko lecet bagi mereka yang kurang hati-hati dalam berkendara, sebab pengerjaannya yang agak ceroboh meninggalkan begitu saja pembongkaran jalan tanpa perlindungan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, satu pagi mataku terarah pada pemandangan yang merenyuhkan. Berangkat agak lebih awal waktu itu, jalanan yang sepi masih menjadi tempat yang nyaman bagi beberapa orang pekerja proyek untuk berbaring meringkuk di atas triplek dengan ditutupi sarung di area pengerjaan jalan. "Mereka tidur di tengah jalan?!" tanyaku tersentak. Ya. Tidak tampak adanya barak yang lazim dibangun setiap ada proyek besar di sekitar situ, dan disanalah mereka beristirahat setiap malam. Entah dimana mereka makan, entah dimana pula mereka berteduh dan beristirahat siang. Mereka yang selalu kulihat sekuat tenaga memukulkan palu dan mengangkat macam ragam alat berat rupanya tidak pernah disediakan 'rumah' yang layak untuk sekedar men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;charge&lt;/span&gt; tenaga. Jalanan Jakarta menjadi rumah mereka, sebagaimana juga banyak orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dalam kemacetan. Bedanya, yang satu nyaman dalam mobil ber-AC, yang lain ditiupi Angin Cemilir plus debu dan asap knalpot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat pernah cukup sering mendengar mantan pemimpin negeri ini ada yang disebut sebagai Bapak Pembangunan, karena dianggap berjasa (atau menganggap dirinya berjasa?) membangun banyak hal (baca: gedung bertingkat dan jalan-jalan utama). Sebuah pertanyaan pun muncul: benarkah pemimpin negeri ini adalah Bapak Pembangunan? Dengan lantang suara dari dalam hatiku pun menjawab: TIDAK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya sok peduli pada rakyat kecil (sebab aku pun juga rakyat kecil), tapi bagiku kepemimpinan amat berbeda dengan keselebritisan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Benarkah Soekarno pemimpin?&lt;/span&gt; Ya, jawab beberapa orang yang berpandangan bahwa ia lah yang memiliki visi Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Pertanyaannya: apa yang terjadi jika tidak ada sekumpulan rakyat kecil yang dengan keluguan namun dengan ketulusan yang mendalam memberikan dukungan atas perjuangannya? Aku tidak yakin nama Soekarno akan pernah didengar oleh dunia. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Benarkah Soeharto pemimpin?&lt;/span&gt; Ya, jika selama ini kita melihatnya sebagai orang yang sempat menorehkan sejarah dengan menjadikan perekonomian Indonesia 'tampak' cukup kuat plus bumbu nepotisme yang kental. Pertanyaannya: apa yang terjadi jika pada masa itu tidak ada seorang pun yang mau disuap dan diajak bekerja bersamanya untuk kemudian memilih jalannya masing-masing secara jujur dan lurus? Aku juga tidak yakin wajah presiden yang membanggakan dirinya sebagai anak petani itu (namun tidak berjiwa petani) akan pernah digambar di selembar uang terbitan BI dengan judul Bapak Pembangunan Indonesia. Melompat lebih sempit ke Jakarta, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;benarkah Sutiyoso pemimpin?&lt;/span&gt; Ya, jika kita hanya menikmati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;busway &lt;/span&gt;yang telah sekian lama mengitari koridor beberapa koridor. Pertanyaannya: apa yang terjadi, jika para pekerja yang tidur di tengah jalan Warung Buncit itu memperlambat kerjanya 1 jam sehari saja? Pekerjaan akan molor, protes akan semakin kencang, dan bukan tidak mungkin ia akan didemo turun jabatan sebelum waktunya. Masuk akal, mengingat prestasinya dalam menangani banjir dan kemacetan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;So&lt;/span&gt;, siapa sebenarnya yang jadi pemimpin disini? Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab bagiku. Kepemimpinan sejatinya berbeda dengan keselebritisan, meski keduanya seringkali berada pada satu individu yang sama. Masalahnya, yang dibutuhkan bangsa ini hanyalah kepemimpinan sejati, tok til, tanpa embel-embel yang lain. Sebuah kesadaran yang amat mendalam tentang potensi yang diberikan oleh Tuhan, sehingga ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya teraktualisasi. Seorang pekerja proyek adalah pemimpin, ketika ia bekerja dengan seluruh kemampuannya secara total disertai keikhlasan dari dalam lubuk hati terdalam. Sebaliknya, seorang presiden sekalipun, hanyalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;follower &lt;/span&gt;setia dari hawa nafsu kekuasaannya ketika ia membuat banyak keputusan semata-mata hanya untuk mencari keuntungan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, kepemimpinan sebenarnya bukanlah hal yang terlalu muluk. Cukup pahami apa yang bisa kita perbuat, dan segera jalankan secara konsisten. Hmm...mau jadi pemimpin sekarang?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116356256585363475?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116356256585363475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116356256585363475' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116356256585363475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116356256585363475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/11/pemimpin-indonesia.html' title='Pemimpin  Indonesia'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116303277127940797</id><published>2006-11-09T07:04:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:38:06.960+07:00</updated><title type='text'>Level Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Akhir pekan kemarin aku mendengar sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Ronan Keating. Cukup sering kudengar sebenarnya, namun entah mengapa saat itu terasa ada hal yang berbeda kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;If tomorrow never comes&lt;br /&gt;Will she know how much I love her&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Begitu kira-kira lirik pada bagian refrain yang kuingat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini kurang lebih bercerita tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;love &lt;/span&gt;dengan orientasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;giving&lt;/span&gt;. Cukup menarik dan menyentuh, karena sebagai seseorang yang mencintai, si penyanyi ingin menggambarkan pengabdian cinta (cieilah...) dengan keinginan yang sederhana: sekiranya tidak ada hari esok untukku, kira-kira dia tahu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak &lt;/span&gt;ya kalau aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk memberikan cintaku padanya? Memahami cinta sebagai sesuatu yang universal, lagu ini memiliki kasta cinta yang lebih tinggi daripada kisah cinta lain yang umumnya amat pamrih. Contoh, lagu milik Marcel ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku kan setia&lt;br /&gt;Bila memang kau pun setia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lagu berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya, ku tak rela&lt;br /&gt;Jika kau tetap bersama dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yang terakhir ini termasuk salah satu lagu yang kucibir karena bukan hanya level cintanya tidak terlalu bergengsi, tapi juga tidak tersirat kesan optimisme dan asertivitas sama sekali. Kalau memang tidak rela, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;so what&lt;/span&gt;? Mau berbuat apa? Cari orang lain kah? Atau kejar terus sampai dapat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada lagunya Ronan Keating tadi (yang terus terang aku lupa judul aslinya), masih tersisa perasaan kurang puas dengan cinta model begini. Terasa masih menghambat dan membelenggu sang pencinta sehingga terus berharap-harap cemas akan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;return&lt;/span&gt; dari cinta yang diberikan, meskipun hanya sekedar kekasihnya tahu pasti bahwa ia telah memberikan seluruh cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di sinilah aku kemudian teringat pada sebuah lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jadul&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cinta yang kuberi&lt;br /&gt;Sepenuh hatiku&lt;br /&gt;Entah yang kuterima&lt;br /&gt;Aku tak peduli&lt;br /&gt;Aku tak peduli oh oh oh...&lt;br /&gt;Aku tak peduli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yap! Lagu milik musisi balada Ebiet G. Ade ini kuingat terakhir kali kudengar di bis kota beberapa bulan lalu. Cinta model begini inilah yang pada akhirnya membuatku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sreg&lt;/span&gt;, sebab sebagai seorang pencinta, aku termasuk pendukung ungkapan mencintai tak harus memiliki. Terkesan klise? Mungkin, bagi mereka yang menganggap cinta hanyalah permainan kanak-kanak di antara dua remaja yang sedang kasmaran. Untunglah, cinta yang sebenarnya tidak serendah itu. Cinta adalah perekat segala sesuatu yang tampak tidak sinkron, jauh, dan mustahil direkatkan. Aku pun teringat orang-orang Muslim Cina pernah berkata tentang Mohammad Natsir, "Kami mungkin lebih mengenal dan mencintai dia daripada bangsanya sendiri." Pak Natsir lahir dan hidup di Indonesia, tapi orang-orang nun jauh di sana ternyata lebih merasakan cinta yang ia berikan berupa persahabatan dan persaudaraan sebagai orang-orang Muslim. Bukankah tidak pernah ada sepasang suami istri yang memiliki kecocokan sepenuhnya? Toh, mereka bisa memahami perbedaan masing-masing dan hidup bahagia puluhan tahun karena cinta yang mereka miliki. Bukankah pula banyak negara dengan beragam perbedaan mampu hidup damai ratusan tahun? Apa lagi yang menjadi sebabnya jika bukan cinta yang mereka bangun terhadap kesatuan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tumbuh subur, ketika dipupuk melalui kebiasaan memberi. Dengannya kita selayaknya menjadi manusia yang merdeka, tanpa ada kecemasan apapun akibat rasa ingin menerima. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isn't it sweet?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116303277127940797?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116303277127940797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116303277127940797' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116303277127940797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116303277127940797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/11/level-cinta.html' title='Level Cinta'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116217929042254015</id><published>2006-10-30T09:48:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:43:04.073+07:00</updated><title type='text'>Hari Kemenangan?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Libur lebaran seminggu kemarin menyisakan tawa dan cemas sekaligus padaku. Tawa, sebab selayaknya sebuah perayaan hari besar, lebaran memang penuh dengan canda tawa dan keramaian. Keluargaku lengkap berkumpul tepat sehari sebelum lebaran, berkeliling silaturahim hingga hari ketiga, menikmati Jakarta yang cukup lengang (kecuali setelah shalat Id yang memang macet luar biasa). Pokoknya, tidak satu pun jalan yang kulewati lepas dari gema hari yang sering disebut hari kemenangan itu. Nah, disinilah rasa cemasku muncul: benarkah hari itu adalah hari kemenangan?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat sebuah riwayat ketika Rasulullah mensabdakan, "Kita baru saja kembali dari peperangan kecil dan akan masuk ke dalam peperangan yang lebih besar." Sebuah sabda yang diucapkan tak lama setelah menang di sebuah peperangan menjelang bulan Ramadhan ini cukup mengagetkan sahabat yang mendengarnya ketika itu. Perang fisik disebut sebagai peperangan kecil, karena ia jauh lebih terlihat dan kasat mata, sehingga kita bisa mengatur strategi yang jitu untuk menaklukkannya. Sementara perang terhadap dorongan dari diri sendiri menjadi peperangan besar, sebab rasa cinta diri yang abstrak jelas tidak mudah untuk dikendalikan begitu saja. Inilah barangkali yang menjadi alasan mengapa banyak orang menganggap Idul Fitri sebagai hari kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik ke dalam diri sendiri, sebuah pertanyaan sinis menyentil telingaku: benarkah aku sudah menang? Mengingat masih ada detik-detik Ramadhan yang belum diisi ibadah yang khusyuk, mengingat perkataanku yang masih menyakitkan kepada seorang kawan, mengingat keenggananku untuk menyeberangkan seorang nenek yang kulihat di pinggir jalan, mengingat semangatku yang justru muncul ketika berangkat untuk membeli baju baru, mengingat berat badanku yang segera naik setelah lebaran, label kemenangan tampaknya masih cukup jauh untuk diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, aku termasuk yang selalu meyakini bahwa setiap ritual ibadah adalah metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;training &lt;/span&gt;dari Tuhan. Selayaknya sebuah pelatihan, ia memang tidak akan menjadikan pesertanya berubah seketika selesai mengikuti semua sesinya. Butuh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;transfer of training&lt;/span&gt; untuk menjadikan keterampilan yang dipelajari agar merefleks dalam perilaku sehari-hari. Demikianlah aku ingin menjadikan 11 bulan mendatang sebagai ajang penggemblengan sekaligus aktualisasi diri yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebab hari kemenangan hanya untuk mereka yang mampu mentransformasikan keshalihan spiritualnya menjadi keshalihan sosial yang mumpuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqabbalallahu minni wa minkum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116217929042254015?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116217929042254015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116217929042254015' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116217929042254015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116217929042254015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/hari-kemenangan.html' title='Hari Kemenangan?'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116130448295949306</id><published>2006-10-20T06:59:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:44:20.123+07:00</updated><title type='text'>Sudahkah Fitrah?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ramadhan tinggal menyisakan sedikit lagi hari. Sebelah tangan pun masih tersisa untuk menghitungnya. Mengingat pesan yang selalu dikumandangkan para penceramah sejak dulu, konon katanya kita akan kembali kepada fitrah setelah selesai bulan ini. Karena itulah kemudian kita pantas berpesta di hari yang dinamakan Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan menyeruak: benarkah aku akan kembali kepada fitrah beberapa hari menjelang?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan yang amat sulit kujawab dengan keterbatasan kemampuanku sendiri. Aku pun kemudian mengingat beberapa ceramah yang pernah kudengar dulu. Satu hal yang cukup sering kudengar adalah bahwa kita akan kembali kepada fitrah selayaknya seorang bayi yang baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya kah? Entahlah. Yang pasti di kepalaku lalu tercetus lagi pengertian kata fitrah itu sendiri. Setahuku sih, kata fitrah paling utama disebut ketika Tuhan menerangkan kepada para malaikat ketika Ia ingin menciptakan kita: menjadi khalifah di muka bumi. Untuk itulah kemudian segala alam ditundukkan sehingga manusia dapat menggunakan pikirannya dan mengelola alam dengan baik. Diciptakanlah Sunnatullah alias hukum yang menjaga keteraturan pola interaksi kita dengan alam. Gaya gravitasi, aliran udara, bibit yang ditanam lalu disirami dan akhirnya tumbuh menjadi tanaman, air yang mengalir dari atas ke bawah, sampai pada kehidupan sosial seperti aksi-reaksi, kebaikan akan mendatangkan kebaikan begitu pula sebaliknya, dsb. Belum lagi fitrah sebagai laki-laki dan perempuan. Eit, bukan masalah perbedaan derajat loh. Tapi kenyataannya, aku tidak bisa hamil dan melahirkan bagaimanapun inginnya aku. Dilihat secara rata-rata, laki-laki juga memang punya karakter yang berbeda dengan perempuan. Jika dengan perbedaan itu kemudian keduanya harus saling melengkapi dan bersinergi itu juga fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini aku kemudian melihat puasa yang kujalani sebulan belakangan. Puasa salah satunya berarti menahan lapar, dahaga dan hubungan seksual. Ketiganya adalah kebutuhan fisik yang mutlak harus dipenuhi. Namun selayaknya kebutuhan, tentu sudah ada kadarnya. Makan kekenyangan ditambah gizi buruk dan tidak seimbang, minumlah sebanyaknya plus tanpa mempedulikan jenis cairan yang masuk, maka tubuh akan bekerja lebih keras dan tunggulah penyakit yang akan muncul. Pun dengan hubungan seksual, kadar yang berlebihan maupun kekurangan pastilah akan berpengaruh terhadap hubungan kasih sayang yang terjalin. Satu sisi, puasa mengajarkan kita yang berlebihan memenuhi itu semua agar kembali kepada fitrah takaran yang sebenarnya diperlukan. Sisi lain, ia juga membuat kita yang kekurangan agar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;starving&lt;/span&gt; dan hendaknya menambah hingga pas kadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga berlaku untuk puasa emosional dan spiritual. Agama yang masternya keseimbangan ini memang selalu mengajarkan agar kehidupan berjalan sesuai proporsinya. Yang suka marah hendaknya menahan, yang kurang tegas hendaknya lebih asertif. Sebab bukanlah sabar namanya jika ditampar pipi kanan lalu diberikan pipi kiri. Sabar adalah menangkis serangan yang mungkin akan menyakiti kita, walaupun tidak selalu harus membalas. Yang jarang menghadap Tuhan, diberikan lingkungan yang amat kondusif untuk melatih diri. Yang sudah cukup banyak ibadahnya, diingatkan untuk menjadi saleh secara sosial pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir seperti ini, aku pun bertanya-tanya sendiri: bisakah aku menggapai fitrah beberapa hari lagi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116130448295949306?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116130448295949306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116130448295949306' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116130448295949306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116130448295949306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/sudahkah-fitrah.html' title='Sudahkah Fitrah?'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116113490456572985</id><published>2006-10-18T08:28:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:47:16.516+07:00</updated><title type='text'>Yang Terbuang dan Tersia-sia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kemarin sore, aku membantu rekan-rekan kantor yang menjadi panitia peringatan Nuzulul Qur'an. Acara hampir dimulai, aku pun duduk sejenak di samping seorang rekan sembari menunggu para peserta berdatangan. Rekanku ini kukenal sebagai seseorang yang amat bersemangat ikut dalam berbagai kepanitiaan. Sudah tidak terhitung lah partisipasinya setahun belakangan ini. Dalam kepanitiaan kali ini pun, aku mengamati ia sepertinya memegang peran yang cukup besar sekalipun banyak rekan-rekan lain yang lebih senior. Obrolan pun berlanjut, aku iseng bertanya kepadanya, "Acaranya apa aja sih sore ini?"&lt;br /&gt;Ia menjawab, "Nggak tahu. Itu urusannya si A (sebutlah demikian)."&lt;br /&gt;Aku sedikit heran, orang dengan peran seperti dia mengakui tidak tahu paling tidak garis besar acaranya? "Masak sih nggak tahu?" tanyaku lagi&lt;br /&gt;"Bener, nggak tahu. Aku kan kebagian ngurus pembagian santunan dan urusan yayasan anak yatimnya. Ya aku nggak tahu acaranya akan seperti apa," jawabnya lugas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian ingatanku kembali pada setahun yang kujalani bersama rekanku ini sebagai satu tim. Ia memang punya semangat untuk bekerja yang tinggi. Impiannya yang kutahu hanya satu: setiap pekerjaan yang diberikan harus diselesaikan. Termasuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;request&lt;/span&gt; untuk ikut dalam berbagai kepanitiaan. Hasrat berprestasinya yang tinggi membuatnya tidak bisa mengatakan 'tidak' pada sebuah tawaran, meskipun kupikir-pikir tidak semua dijalaninya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;enjoy&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu dia! Kupikir-pikir lagi, sepertinya hampir selalu muncul keluhan setiap kali ia mengerjakan sesuatu. Ia memang mencurahkan tenaganya, namun amat jarang mencurahkan hatinya. Ia menyelesaikan pekerjaannya, hampir tanpa ada emosi dan rasa kepemilikan di dalamnya. Pengalamannya memang banyak--karenanya peluang belajarnya pun banyak--namun ia hanya fokus pada tugas yang harus ia selesaikan, sehingga hampir tidak bisa menikmati hasil kerja secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat hal ini, aku pun tiba-tiba terpikir akan diriku sendiri. Tidak puas dengan tempat kerjaku, aku segera mencari peluang lain, padahal belum banyak yang bisa kutawarkan dari diriku. Kurang puas dengan satu organisasi ketika kuliah dulu, aku pun pergi mencari tempat lain yang lebih menarik. Kurang cocok berhubungan dengan satu orang, segera saja aku memutuskan untuk mencari yang lebih pas (ups...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...padahal pagi ini aku membaca sebuah buku tulisan Warren Bennis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leaders&lt;/span&gt;. Satu hal yang amat menamparku: para pemimpin besar tidak pernah terpengaruh dengan hal-hal di luar dirinya. Sebutlah itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mood&lt;/span&gt;, lingkungan yang tak bersahabat, peluang yang sempit untuk berkembang, kondisi ekonomi yang sulit, dan kawan-kawannya. Justru keadaan yang tidak menyenangkan adalah 'ladang amal'--pinjam istilahnya ya A'--untuk mengembangkan dan membuktikan kualitas kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun berpikir, sudah berapa banyak peluang belajar yang kulewatkan hanya karena aku belum bisa menundukkan diriku sendiri? Berapa waktu yang kubuang sebab aku tidak pernah menghargai setiap detik yang lewat di hadapanku? Berapa banyak tenaga yang tersia-sia hanya untuk mengeluh dan tidak berbuat apapun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...saatnya untuk berubah...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116113490456572985?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116113490456572985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116113490456572985' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116113490456572985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116113490456572985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/yang-terbuang-dan-tersia-sia_18.html' title='Yang Terbuang dan Tersia-sia'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116095965813574248</id><published>2006-10-16T07:14:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:50:42.036+07:00</updated><title type='text'>Bulan Orang Terpinggirkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Semalam aku buka puasa bersama keluarga di salah satu warung nasi kapau di kawasan Senen. Lama tak makan disana, aku tidak menyangka jika di bulan puasa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;weekend&lt;/span&gt; pula, warung itu begitu ramai. Nyaris saja kami tidak mendapatkan tempat duduk. Untunglah, setelah sedikit bergerilya, ada beberapa orang yang bersedia meluangkan tempat duduknya bagi kami. Sembari menunggu datangnya pesanan dan waktu buka, aku pun mengamati keramaian yang terjadi. Para karyawan warung yang amat sibuk melayani pesanan, pengunjung yang memesan dengan suara keras agar lekas terdengar, lalu lalang orang mencari tempat duduk, beberapa orang yang berinisiatif untuk mengambil pesanannya sendiri, seorang ibu yang sibuk berdiskusi dengan anaknya tentang menu yang akan dipilih, tukang parkir yang penuh semangat mencarikan tempat bagi mereka yang baru datang, sampai beberapa calon pengunjung yang membuka jendela mobil dan menatap putus asa pada meja-meja yang telah penuh sesak itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Radio pun dinyalakan, mengantarkan suara adzan maghrib. Sebagai pengunjung, segeralah aku menikmati segelas teh es manis (demikian orang Minang menyebut es teh) yang telah berhasil kudapatkan. Suara-suara kelegaan muncul dari para pengunjung, diiringi oleh beberapa teriakan meminta pesanannya cepat-cepat dihidangkan. Semakin sibuklah para pelayan yang sebenarnya telah sejak tadi bergerak dengan amat cepat. Tak ayal lagi, gerakan mereka pun menjadi pusat perhatianku. Disaat aku sedang mencari kursi, mereka harus sigap dan berkeringat mengurusi pesanan. Ketika aku menikmati guyuran teh es yang melewati kerongkongan, mereka harus lebih sigap lagi agar para pelanggannya tidak menunggu terlalu lama. Mereka amat paham bahwa banyak orang lapar sedang menunggu, justru di saat mereka sendiri juga sedang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun merasa pantas untuk tersenyum melihat orang-orang dengan semangat tinggi ini. Ya, di bulan yang setiap niatan baik dihargai sebagai ibadah ini mereka mendapatkan 2 macam rezeki. THR tidak mereka dapatkan dari kebaikan perusahaan, melainkan keringat mereka sendiri. Limpahan pahala kebajikan mereka raih dari keikhlasan gerak menyuguhkan buka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum ini tidak berhenti setelah aku selesai makan. Tempat parkir yang sulit membuat harga parkir yang tidak standar menjadi pantas menurutku. Keluar dari tempat parkir, jalanan yang padat mendatangkan seorang lagi membantu mobilku untuk menyeberang jalan. Sekali lagi aku pun merasa pantas untuk memberinya tarif lebih dari seorang pak ogah biasa. Berjalan merambat, aku baru menyadari kalau sepanjang jalan Kramat ternyata ada cukup banyak penjual penganan ringan yang berjajar, juga tidak kekurangan pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Bulan apa ini yang menyediakan begitu banyak limpahan rezeki seperti ini? Mereka yang biasanya terpinggirkan kini justru menjadi tumpuan harapan orang-orang berduit yang sedang kelaparan bin tidak sabaran. Pantaslah kiranya, sang manusia mulia suatu kali mensabdakan, "Jika manusia tahu keutamaan bulan Ramadhan, niscaya mereka akan meminta semua bulan dijadikan Ramadhan." Aku baru sedikit memahaminya sekarang...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116095965813574248?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116095965813574248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116095965813574248' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116095965813574248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116095965813574248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/bulan-orang-terpinggirkan.html' title='Bulan Orang Terpinggirkan'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116070321444053356</id><published>2006-10-13T08:32:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:52:25.840+07:00</updated><title type='text'>Kumpul-kumpul Ramadhan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Jika ditanya salah satu hal yang paling menonjol ketika muncul Ramadhan, salah satu jawabannya adalah: kumpul. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pekerja yang biasanya senang lembur, mulai bekerja dengan efektif sehingga dapat pulang tepat waktu demi berbuka bersama keluarga di rumah ataupun bersama rekan-rekan yang lain. Tidak tanggung-tanggung, seorang rekan bercerita bahwa ia sudah memiliki schedule yang cukup padat untuk acara yang satu ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Mulai dari dengan alumni sekolah, kuliah, teman kantor, sepupu, panti asuhan, dan lain sebagainya. Mereka yang tadinya jarang ke masjid, menjadi rajin karena para tetangga berbondong-bondong mengajak tarawih berjamaah. Malas mengaji? Tenang saja, sebab pengurus masjid telah menyiapkan paket tadarusnya. Tidak lupa tentunya macam ragam pengajian yang bertebaran dimana-mana, menunggu untuk dipilih--dan dihadiri tentunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang bilang semua kegiatan itu hanyalah euforia Ramadhan belaka. Layaknya selebritis yang segera berganti busana sehari-hari dengan pakaian muslim, kesibukan seperti di atas pun biasanya memang akan hilang seketika begitu Ramadhan usai. Namun demikian, setidaknya ada beberapa pemikiran yang sedikit berbeda mencuat di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian teringat pengalamanku mengikuti kuliah dosen tamu dari Swedia, pakar Psikologi Lintas Budaya. Bicara tentang kolektivitas, tiba-tiba aku pun melontarkan sebuah pertanyaan yang memunculkan &lt;i&gt;insight&lt;/i&gt; bagiku sendiri. Mengapa orang Indonesia yang katanya punya budaya kolektif tinggi amat jarang yang menggunakan nama keluarganya sebagai nama panggilan resmi? Padahal jika diamati, bangsa barat yang konon amat individualistis toh selalu memakai nama keluarganya sebagai identitas. Dosen itu mengakui ia &lt;i&gt;have no idea&lt;/i&gt;. Tapi seketika itu sebuah jawaban muncul dengan sendirinya dari kepalaku: bagaimanapun, manusia adalah makhluk kolektif. Kebersamaan dengan orang lain adalah kebutuhan yang tidak mungkin bisa digantikan oleh kesuksesan akibat ambisi pribadi. Kecenderungan untuk terikat pada identitas tertentu adalah kenikmatan yang akan terus dicari meski kekayaan material ada di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya aku pun kemudian memahami Ramadhan sebagai bulan kolektif. Ya. Islam memang paham betul bahwa manusia dengan segala kesempurnaan (dan juga kekurangannya) memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Cobalah mengucilkan seseorang, dan jiwanya akan terganggu secara perlahan-lahan. Inilah mengapa Islam amat menekankan arti berjamaah dalam menjalankan tiap ibadah. Shalat, puasa, zakat, sampai haji adalah tiang keislaman yang semuanya didesain berdasarkan fitrah manusia sebagai ciptaan yang kolektif. Sisi lain, berjamaah adalah pancingan untuk membuat manusia keluar dari zona-nyaman-individual-sesaat dan keluar menjalankan fungsi kekhalifahannya. Sungguh sebuah sistem ibadah yang luar biasa. Sederhana, namun dengan kandungan kompleksitas yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116070321444053356?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116070321444053356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116070321444053356' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116070321444053356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116070321444053356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/kumpul-kumpul-ramadhan.html' title='Kumpul-kumpul Ramadhan'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116061534350460801</id><published>2006-10-12T07:38:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:58:47.206+07:00</updated><title type='text'>Kerja Pengisi Waktu?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Seorang sahabat pernah berujar, "Kerja adalah sambilan pengisi waktu menunggu datangnya waktu shalat." Sesaat, ini sebuah kalimat yang teramat dalam dan menyisakan keharuan buatku. Betapa tidak? Tampak bagiku kecintaan yang begitu dalam pada Kekasih-nya, sehingga selalu muncul kerinduan yang amat sangat dan hasrat yang amat tinggi untuk bertemu. Namun, lebih dalam kupikirkan, kurasa aku kurang sepakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang awam dalam masalah agama, aku selalu yakin bahwa misi khalifah yang diemban oleh manusia tidak sesempit menjalankan ritual ibadah belaka. Memang, Ia mensabdakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, hanya saja kemudian Ia pun mengajarkan melalui manusia pilihannya bahwa senyum, mencari nafkah, membantu tetangga, dan kegiatan non ritual lain juga adalah ibadah. Barangkali karena hal-hal yang kusebut belakangan memang tidak memiliki standar yang baku maka statusnya sebagai sebuah penyerahan diri kepada Penciptanya kurang dihargai oleh kebanyakan orang. Justru kita shalat agar kita bekerja dengan niat yang lurus layaknya syahadat, totalitas yang tinggi laksana khusyuk, tempo yang terjaga seperti tuma'ninah, dan diakhiri dengan manfaat yang dibagikan pada banyak orang bagaikan syahadat saat takhiyat dan salam. Shalat 5 waktu telah dirancang sesuai dengan keterbatasan manusia untuk memfokuskan energi dan pikirannya, karena itulah perlu di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;refresh&lt;/span&gt; lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual yang dijalani dengan penuh kekhusyukan memang nikmat, namun tentu lebih nikmat jika ia mampu membuat kita bekerja secara profesial dan berguna bagi dunia yang Ia ingin kita tundukkan. Lagi-lagi, keshalihan spiritual harus mewujud dalam keshalihan sosial.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116061534350460801?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116061534350460801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116061534350460801' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116061534350460801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116061534350460801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/kerja-pengisi-waktu.html' title='Kerja Pengisi Waktu?'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116053385414126004</id><published>2006-10-11T07:28:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:59:40.090+07:00</updated><title type='text'>Lailatul Qadr, Sebuah Penguat?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dari dulu aku selalu penasaran dengan Lailatul Qadr. Sebuah konsep yang sedikit abstrak memang, sebab belum ada 1 orang pun yang kukenal ataupun kubaca mengaku pernah benar-benar mengalami malam yang ajaib ini. Sebagai malam yang punya 'kasta' amat tinggi, ia memang diceritakan memiliki berbagai keistimewaan. Sebutan "Malam Seribu Bulan" pun disandangkan kepadanya karena konon ia memiliki nilai yang sama dengan seribu bulan jika ia datang dan mendapati kita sedang bersujud kepada Pencipta-nya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak sudah ceramah yang menuturkan padaku bagaimana kita bisa mengira-ngira dan mendapatkan malam yang langka ini. Ada yang mengatakan, kita harus banyak beribadah di malam ganjil, sebab Tuhan menyukai yang ganjil. Ada juga yang mengatakan tanggal 17 Ramadhan, karena konon pada tanggal itulah Al Qur'an pertama kali turun--sesuatu yang kemudian kuragukan kebenarannya. Ada lagi yang menekankan malam-malam ganjil namun secara lebih spesifik ada di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Yang terakhir ini salah satunya didasarkan pada kebiasaan Nabi yang semakin khusyuk bermesraan dengan Kekasih-nya di 10 hari terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang memang tidak ahli dalam pengetahuan agama, aku meyakini bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan agama ini hanya untuk orang-orang yang pandai saja. Sebabnya, Dia toh menciptakan manusia dengan tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Memang sih kita diperintahkan untuk selalu 'membaca', namun pastilah ini dalam konteks keterbatasan masing-masing. Sah-sah saja kemudian jika Lailatul Qadr dipahami sebagai sesuatu yang bersifat fisik, satu malam yang memang menunjukkan tanda-tanda turunnya jutaan malaikat ke bumi seperti langit yang cerah dsb. Bagi beberapa orang, pemahaman yang konkrit seperti ini memang membuat mereka lebih mudah untuk meyakini kebenaran adanya malam mulia ini. Hitung-hitungan keutamaannya pun dikerjakan secara detil sehingga malam seribu bulan diartikan sebagai kurun waktu sekitar 80-an tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebab inilah yang kemudian membuatku berani untuk mencerna Lailatul Qadr menurut keterbatasan kemampuanku. Aku melihat bahwa keberadaan malam ini adalah salah satu bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reinforcement&lt;/span&gt; yang diciptakan Tuhan untuk membuat setiap orang selalu memaksimalkan setiap malam Ramadhan. Secara teori, sebuah penguat akan efektif ketika kedatangannya tidak bisa diduga oleh si penerimanya. Berdasarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mindset&lt;/span&gt; bahwa ibadah spiritual adalah cara Tuhan untuk mendidik manusia secara sosial, demikian juga yang terjadi dengan Lailatul Qadr. Malam mulia hanya diperuntukkan bagi manusia yang mulia, manusia yang tunduk pada Penciptanya pada setiap detik yang dijalani. Manusia yang memancarkan kebeningan pada cahaya wajahnya disebabkan oleh kemerdekaan yang telah diraih. Kemerdekaan yang didapat dari kepasrahan dan komitmen total kepada aturan main Penciptanya. Inilah sebabnya malam mulia ini diumpamakan sebagai seribu bulan. Kata seribu tidak hanya harfiah dalam arti jumlah, ia juga mengandung makna kemungkinan tak terbatas untuk memberi dan berbagi. Tidak lagi muncul sedikit pun kekikiran, sebab yang ia miliki tak lagi terbatas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116053385414126004?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116053385414126004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116053385414126004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116053385414126004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116053385414126004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/lailatul-qadr-sebuah-penguat.html' title='Lailatul Qadr, Sebuah Penguat?'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116044565511159425</id><published>2006-10-10T09:00:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:00:52.073+07:00</updated><title type='text'>Kaya Fisik, Kaya Spiritual</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Akhir pekan lalu aku berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan besar. Sampai disana jam 10, kondisi pertokoan masih cukup lengang. Kulihat sekeliling, tampak beberapa toko masih tertutup rapat, belum menunjukkan tanda-tanda penghuni yang siap melayani pelanggan. Keadaan berubah 30 menit kemudian, ketika tiba-tiba tempat itu diserbu oleh pengunjung yang luar biasa banyaknya. Cukup sulit buatku untuk berjalan berkeliling. Belum lagi ketika aku bermaksud mengambil uang di ATM, antriannya panjang luar biasa. Mataku semakin terbelalak ketika aku mengendarai mobil untuk pulang, kulihat ratusan orang berjalan di koridor busway, semuanya berjalan cepat dengan wajah seolah siap memborong belanjaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kejadian seperti ini memang bukan fenomena yang aneh pada bulan puasa. Ketika anjuran untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah semakin kencang bergaung, ketika itu pulalah peningkatan jumlah orang yang thawaf mengelilingi mal-mal semakin bertambah. Rasa penasaranku muncul ketika kuingat bahwa Rasulullah mengajarkan kita untuk memiliki pakaian tidak lebih dari 7 stel saja. Terlepas dari koleksiku yang juga jelas lebih dari itu, sebuah pencerahan muncul di benakku. Memiliki pakaian dalam jumlah yang cukup akan menguntungkan dalam 2 hal. Pertama, jumlah tersebut cukup untuk 7 hari dalam seminggu. Pertanyaan mungkin muncul: masak make pakaian yang sama setiap minggu? Jawabannya jelas: so what? Islam memang mengajarkan manusia untuk kaya dan indah secara batin, dan sejauh mungkin menghindari keindahan lahiriah saja. Mengenakan pakaian yang sama berarti mengajak diri untuk melupakan apa yang kita pakai, dan menyelam lebih ke dalam untuk mengurai kekayaan batin. Ya, melupakan yang membungkus kulit, kemudian meresapi apa yang ada jauh di dalam kulit. Keuntungan kedua, dengan membiasakan diri untuk hidup cukup, rezeki yang telah diterima tentu akan bisa lebih efektif dan efisien digunakan. Bayangkan saja, berapa jumlah THR yang bisa dihemat jika kita tidak menggunakannya untuk membeli baju baru (lebih dari 1 stel lagi!) karena baju yang lama masih amat pantas untuk dikenakan. Seingatku, Nabi mulia itu hanya mengatakan pada kita untuk mengenakan pakaian yang baik ketika berhari raya, bukan pakaian yang baru. Kalaupun ingin membeli baju baru, maka sumbangkanlah baju yang lama. Jadilah baju lama itu tabungan akhirat. Nah, kembali lagi nih ke kekayaan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, seharusnya setelah lebaran kita memang bisa menjadi kaya dalam 2 bentuk. Secara fisik, sebab kita telah berhasil menahan pengeluaran yang biasa muncul dalam bulan-bulan biasa. Secara spiritual karena Tuhan menyediakan ganjaran yang berlipat ganda akibat perbuatan kita menyumbang ta'jilan, zakat fitrah, zakat mal, juga infaq dan sedekah setiap malam shalat tarawih. Bukan hanya pahala yang kita dapat, tapi juga kejernihan ruhani yang muncul akibat detoksifikasi qolbu yang kita jalani. Nah sekarang, bayangkan kekayaan yang bisa kita tumpuk jika 1 bulan yang dahsyat ini kita kloning pada 11 bulan berikutnya...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116044565511159425?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116044565511159425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116044565511159425' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116044565511159425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116044565511159425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/kaya-fisik-kaya-spiritual.html' title='Kaya Fisik, Kaya Spiritual'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116035647135647921</id><published>2006-10-09T08:14:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:06:20.556+07:00</updated><title type='text'>Mengurai Takdir</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seminggu yang lalu aku menonton sebuah film berseri dari Taiwan. Bukan hal yang menjadi kebiasaanku memang, namun di dalamnya aku menemukan sebuah pelajaran tentang kejernihan. Salah seorang tokoh utama diceritakan menderita kanker hati stadium lanjut dan divonis hanya memiliki sisa umur 3 bulan lagi. Ia yang juga adalah seorang GM sebuah perusahaan besar sekaligus anak dari sang pemilik sedang menjalani karir yang amat menjanjikan ketika itu. Di tengah keputusasaanya, satu kali ia bertemu dengan seorang perempuan gemuk yang bekerja di kantornya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cleaning service&lt;/span&gt;. Kisah menarik muncul ketika si GM bertanya tokoh kocak ini, "Apa yang ingin kau lakukan jika kau tahu kau hanya punya sisa umur 3 bulan lagi?" Si perempuan pun menjawab, "Membahagiakan orang-orang yang kucintai, melakukan perbuatan baik yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, dan tentu saja mencari pacar kalau memang belum punya." Belum selesai senyum tersunggi di bibir si GM, perempuan itu pun melanjutkan, "Tapi apa bedanya punya sisa umur 3 bulan lagi, 3 tahun lagi, atau pun 30 tahun lagi? Orang yang sehat pun tidak pernah tahu kapan ia akan mati. Hari ini, besok, atau tahun depan, juga tidak ada bedanya. Tidak ada yang menjamin kita yang merasa kuat tidak mati sore ini. Jadi ya, apa yang akan kulakukan hari ini ya menjalani saja dengan sebaik yang aku bisa."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pernyataan menarik yang sekaligus menggelitik pikiranku. Terlepas dari problematika para dokter yang berlagak menjadi Tuhan, cara pandang sang tervonis menjadi hal yang lebih penting untuk dikaji. Sejurus kemudian aku pun teringat pada ajakan Gede Prama untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjalani hidup hari ini&lt;/span&gt;. Terkesan hedonis? Bisa jadi, jika yang dimaksud adalah sama sekali tidak memikirkan masa depan dan berfokus pada apa yang ada di hadapan. Gaya hidup yang belakangan memang merusak jika tidak diimbangi dengan pola pikir antisipatif yang mendalam, namun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mindset&lt;/span&gt; terlalu banyak memikirkan masa depan juga membuat kita menjadi orang yang paranoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa Tuhan menciptakan yang namanya takdir. Konon, setiap hal yang akan kita lalui telah ditakdirkan semenjak ruh kita ditiupkan ketika dalam kandungan dulu. Hanya saja, terlalu sering seseorang berpikir ia telah mencapai takdirnya hanya ketika ia merasa telah kepentok dan belum terlihat adanya tanda-tanda jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, cerita dalam film tadi setidaknya mengingatkanku akan satu hal: Tuhan tidak pernah memberitahu 1 orang pun di dunia ini tentang takdirnya. Implikasinya? Kitalah yang seharusnya mengeset takdir kita sendiri. Meminjam istilah kepemimpinan, takdir tidak lain adalah visi alias tujuan akhir yang kita inginkan dalam hidup. Sebagaimana layaknya sebuah visi, ia harus dijabarkan dalam langkah-langkah nyata untuk mencapainya. Alih-alih takut kepadanya, &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"Menjalani sebaik yang aku bisa" &lt;/span&gt;takdir hanyalah sahabat yang bermaksud mengantarkan kita menyelam ke dalam diri, mencari kesempurnaan yang lama jauh terpendam. Mencermati setiap detik yang kulewati, setiap hal yang tampak di oleh mataku, setiap hal yang indah kusentuh dengan ujung jariku, setiap suara yang kudengar merdu di telingaku, tidak mungkin Tuhan menciptakan semuanya untuk dilewati tanpa suka cita. Ia menjadikan takdir sebagai pemandu, agar setiap detil yang Ia ciptakan bisa kita nikmati dan syukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya," ujar Jalaludin Rumi suatu kali. Perjalanan mengurai takdir menjadi tamasya ruhani akan menjadikan setiap wajah cantik untuk dilihat, setiap suara merdu untuk didengarkan, dan setiap rasa nikmat untuk diresapi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116035647135647921?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116035647135647921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116035647135647921' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116035647135647921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116035647135647921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/mengurai-takdir.html' title='Mengurai Takdir'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116011047420519283</id><published>2006-10-06T11:54:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:03:04.326+07:00</updated><title type='text'>Anakku, Seandainya...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Belakangan aku banyak memperhatikan tingkah laku anak-anak. Baru saja kutemui seorang anak yang kedua orang tuanya tampak sebagai orang baik buatku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menurut penilaianku, anak itu cukup cerdas dan enerjik. Hanya saja, seperti ada yang berlebihan dalam kenakalannya. Nakalnya tida lagi masuk kategori "ono akal" alias cerdik menurut orang Jawa, melainkan sudah sampai pada tahap ketidaksopanan dan kontrol diri yang amat lemah. Ia sering memukul ibu atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baby sitter&lt;/span&gt;-nya tanpa ampun. Hanya sang ayah saja yang mampu menundukkannya, itu pun akan kembali lagi jika sang ayah tidak di rumah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sekilas, tidak ada yang salah dengan kedua orang tuanya. Keduanya juga mengajarkan ilmu agama yang cukup baik. Entah mengapa sang anak amat sulit mengikuti ajaran orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak lama aku pun teringat pertemuanku dengan seorang anak lain setahun yang lalu. Bocah yang belum bisa bicara dan berjalan dengan tegak itu tampak memiliki wajah yang bersinar dan selalu tersenyum. Sang ibu mengatakan, anaknya hampir tidak pernah menangis, kecuali sedang sakit ataupun benar-benar lapar. Kebanyakan ia selalu menyapa siapapun dengan senyumannya yang menawan. Amat berlainan dengan anak kenalanku yang pada usia yang sama selalu memasang tampak 'jutek' kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termasuk orang yang amat yakin bahwa manusia selalu bisa berubah. Hanya saja, bukti yang kutemukan pada anak-anak tersebut membuatku berpikir bahwa sumbangan natural yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan tampaknya memiliki peran yang tidak sedikit. Mengapa ada anak-anak yang nakal secara berlebihan sementara orang tuanya demikian baik? Siapa yang mengajarinya sedangkan di sekolah ia tidak memiliki teman yang senakal itu? TV kah? Bisa jadi, namun jika dilihat anak yang selalu menampakkan senyuman ramah pada setiap orang sementara ia bahkan belum bisa bicara dan berjalan, siapa pula yang mengajarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan itu sedikit terjawab belakangan ini. Disebutkan bahwa bagaimana seorang anak dibesarkan dalam kandungan ternyata amat mempengaruhi bagaimana jadinya bahan dasar si anak sebelum belajar di dunia yang sebenarnya. Itulah sebabnya sebuah ajaran lama menasihatkan pada para ibu untuk amat berhati-hati dalam bertingkah laku selama mengandung sang anak. Perasaan yang muncul, entah itu kegembiraan, kebencian, kekesalan, dsb akan menjadi 'pelajaran' pertama bagi anak di dalam kandungan. Belum lagi kemudian aku teringat sebuah ajaran agama bahwa rezeki yang halal akan menjadikan daging yang baik bagi tubuh sedangkan rezeki yang haram akan menjadikan daging yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selidik punya selidik, ayah si anak nakal tadi tampaknya memiliki rezeki yang kurang jelas datangnya. Di tempat kerjanya, memang hal itu wajar-wajar saja, karenanya ia tetap merasa penghasilannya halal. Sedangkan anak dengan senyuman menawan tadi rupanya dibesarkan dalam kandungan oleh ibu yang mengkhatamkan Al Qur'an setiap bulannya. Mendengar hal tersebut aku pun menjadi cemas sekaligus gembira. Gembira karena aku bisa secara sadar tahu bagaimana caranya memiliki anak yang sudah memiliki bekal untuk menjadi orang shaleh. Cemas karena begitu banyak hal-hal yang tidak jelas bisa masuk dalam aliran darah justru tanpa disadari. Sewajarnya manusia, rasa takut muncul dari hal-hal yang di luar jangkauannya. Aku gembira karena aku masih memiliki kemungkinan besar untuk memiliki anak yang jauh lebih baik dariku. Aku cemas karena bisa jadi banyak hal yang kujalani sekarang tidak memungkinkanku memberikan rezeki yang tidak jelas padanya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, semoga Allah memberiku tangan yang mampu menjangkau hal-hal ini...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116011047420519283?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116011047420519283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116011047420519283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116011047420519283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116011047420519283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/anakku-seandainya.html' title='Anakku, Seandainya...'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-116001116756961751</id><published>2006-10-05T08:17:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:08:17.456+07:00</updated><title type='text'>Tuhan Yang Romantis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;"Bacalah," firman-Nya pada sang manusia mulia. Satu kata yang cukup mengagetkan sebab manusia mulia itu tidak mampu membaca sekalipun kecerdasannya luar biasa. Tidak demikian harfiah rupanya makna satu kata itu, melainkan ingin mengajak kita untuk bertamasya mengarungi indahnya samudera ilmu. Ya, ketakwaan akan memunculkan cinta. Manusia butuh untuk mencintainya, dan cinta akan tumbuh bersemi dalam perjalanan mengurai satu demi satu kecantikan tiap ciptaan-Nya. Membaca yang Ia ajarkan adalah melihat, mendengar, merasakan, kemudian mengurai dan merangkainya menjadi makna baru. Selayaknya orang yang dimabuk cinta, Ia ciptakan segala sesuatunya sempurna bagi mereka yang Ia cintai.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Wahai manusia yang berselimut," panggil-Nya satu kali pada sang manusia mulia. Seolah memanggil sang kekasih dengan ungkapan yang begitu lembut, menyentuh. Membangunkannya di malam yang sunyi, demi menenangkan hatinya yang gundah setelah sekian lama tak bersua. Dijanjikan-Nya surga bagi tiap orang yang setia pada cinta-Nya, membela ajaran-Nya, rela mati demi-Nya. Sesekali memang Ia marah, tapi kudengar, rahmat-Nya mendahului murka-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman," seru-Nya pada berjuta kekasih yang bertebaran di muka bumi. Mereka bukanlah manusia biasa, mereka orang-orang yang cinta mati kepada-Nya. Demikianlah hakikat keimanan, ia meyakini, memasukkan ke dalam lubuk hati, dan menjadikannya mengalir dalam darah serta mewujudkannya dalam gerak laku. Manusia-manusia seperti ini tidak selayaknya dipanggih dengan sebutan "Wahai manusia", "Wahai orang-orang beriman" adalah panggilan yang penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana seorang kekasih selalu ingin merawat dan menjaga kekasihnya. Ia ciptakan beragam ritual untuk menjadikan sang kekasih bersih, sehat, dan selalu indah. Syahadat adalah janji setia sehidup semati. Shalat adalah kencan berdua untuk memadu cinta. Puasa adalah ibadah rahasia, layaknya dua kekasih yang memiliki rahasia mereka sendiri. Puasa pula yang membersihkan sang kekasih dari kotoran-kotoran yang menutupi kemurnian cinta. Zakat adalah cara-Nya mempertautkan jutaan kekasihnya dalam bingkai persaudaraan. Haji adalah pesiar pengabdian total. Dengannya Ia menjadikan sang kekasih lebih kuat dan matang. Demikianlah, Ia membuat semuanya seimbang. Terkadang Ia bermesraan berdua, terkadang ia kumpulkan semuanya untuk menikmati saat-saat itu bersama. Sang kekasih tidak perlu cemburu, sebab selalu ada banyak waktu untuk bercumbu, sedang cinta-Nya tidak terbatas dan terasa amat personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...kuresapi setiap hal yang Ia ajarkan, kurasakan ia adalah Tuhan yang romantis...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-116001116756961751?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/116001116756961751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=116001116756961751' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116001116756961751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/116001116756961751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/tuhan-yang-romantis.html' title='Tuhan Yang Romantis'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115992349625799762</id><published>2006-10-04T07:57:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:10:53.533+07:00</updated><title type='text'>Mengasah Mutiara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sejenak kuteringat kisah Imam Syafi'i. Satu hari ia sedang duduk merenung dan menulis di pinggir sebuah sungai. Syafi'i muda yang amat bersemangat mencari dan mengeksplorasi ilmu itu konon menghabiskan seluruh uangnya untuk mencari ilmu sampai pernah memakan makanan sisa. Beberapa jam di tepi sungai ia tiba-tiba melihat sebuah apel mengambang mengikuti aliran air. Seketika perutnya pun mengisyaratkan bahwa ia menginginkan buat segar itu. Sang Imam pun mengambil buah tersebut dan memakannya. Kebiasaan bersyukur membuatnya amat menikmati hidangan tiba-tiba tersebut. Selesai makan, ia pun kembali duduk serius berkonsentrasi melanjutkan pencariannya. Sebuah keheranan muncul, beragam ide yang tadinya mengalir dengan deras tiba-tiba tersumbat tidak mau keluar. Ia segera tersadar, barangkali apel yang dimakannya tadi jatuh dari pohon milik seseorang yang tumbuh di dekat sungai. "Aku telah memasukkan hak milik orang lain ke dalam tubuhku!" pikirnya. Kisah pun berlanjut dan mempertemukan ia dengan seorang istri yang luar biasa cantik dan shalihah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang mirip datang dari Abul A'la Al Maududi. Hanya saja, ini bukan ulama terkenal tersebut, melainkan seorang remaja dengan hafalan Qur'an luar biasa asli orang Indonesia yang pernah kubaca di majalah. Ia bertutur, pernah suatu kali ia merasakan amat sulit menghafal ayat-ayat Al-Qur'an padahal biasanya selalu mudah. Disadarinya ketika itu, ia terlalu banyak menonton serial Power Rangers. Segeralah dihentikan kebiasaan itu dan kemampuannya pun kembali seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pelajaran yang kupetik dari keduanya: hidayah itu bagaikan mutiara yang belum terasah. Kebiasaan buruk akan membuatnya kusam dan terbuang sekiranya orang tidak menyadarinya. Kebiasaan baiklah yang akan menjadikannya kembali bercahaya. Kuharap puasaku bisa mengikis debu yang menutupi cahaya yang telah dianugerahkan-Nya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115992349625799762?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115992349625799762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115992349625799762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115992349625799762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115992349625799762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/mengasah-mutiara.html' title='Mengasah Mutiara'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115984028942672241</id><published>2006-10-03T07:28:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:16:25.640+07:00</updated><title type='text'>Bercermin</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku tidak terlalu cocok dengan ibuku. Kami memiliki pola pikir, cara kerja, dan gaya hidup yang hampir bertolak belakang. Sekalipun aku tetap menghargainya, aku hampir tidak pernah bisa bertukar pikiran dengannya. Aku juga tidak terlalu cocok dengan beberapa orang temanku. Cara mereka berbicara, berpikir, dan mengambil tindakan terasa kurang pas bagiku. Sekalipun aku tetap bekerja dengan baik bersama mereka, ide-ide unik kreasi bersama tidak pernah keluar dari hasil pekerjaan kita. Begitu juga dengan beberapa orang lain yang baru saja kukenal. Berbicara dengan mereka sebentar aku merasakan ketidakcocokan antara kami. Umumnya sih berkaitan dengan hal yang sama seperti ketidakcocokanku dengan temanku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Belakangan sebuah pertanyaan mencuat: mengapa aku merasa tidak cocok dengan seseorang? Mungkinkah karena memang sifat yang berlawanan atau justru karena sifat yang sama? Yang pertama memang masuk akal, tapi yang terakhir justru memiliki probabilitas yang lebih besar untuk membuatku merasa kurang klop dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kurang cocok dengan ibuku, sebab ia terlalu pesimistis, sehingga seringkali memandang rendah kemampuan diri dan orang lain. Ia juga terlalu takut akan setiap resiko--sekecil apapun resiko itu--sehingga selalu cemas dan melakukan berbagai persiapan yang tidak perlu. Baginya, status quo jauh lebih baik dibandingkan kemajuan yang memiliki resiko. Itulah sebabnya ia tidak pernah mau mengambil keputusan. Sekalipun sangat keras kepala dan kuat bertahan dengan pendapatnya sendiri, ia selalu berusaha meminta pendapat orang lain sehingga bukan ia yang mengambil keputusan. Baru-baru ini kusadari, segala sifat yang tidak kusukai sebenarnya adalah sifatku sendiri. Aku pernah menjadi amat pesimistis (dan kadang kala masih sering muncul), takut pada konsekuensi yang belum pasti, tidak terlalu berani menerima tantangan (meskipun sedang belajar kesana), keras kepala, dan yang pasti cukup lama mengambil keputusan. Aku kurang suka dengan cara berpikir kawanku yang terlalu kaku dan kurang inovatif, sebab aku pun amat ingin menjadi seorang yang luwes dan kreatif sekalipun belum bisa sampai kesana. Aku juga tidak suka dengan beberapa orang yang terlalu sembrono dengan orang yang baru dikenal, karena aku juga memiliki sifat serupa yang sedang ingin kukelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pelajaran kemudian menimpa kepalaku: berhati-hatilah dengan kebencianmu, sebab ia sejatinya adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita tentang jalan salah yang sedang kita lalui. Ya, emosi adalah semacam alarm yang akan menyentil telinga untuk selalu waspada. Baik membenci maupun mencintai berlebihan akan membuat kita lupa pada masalah yang harus terselesaikan di baliknya. Tidaklah Tuhan menjadikan benci dan cinta melainkan untuk meminta kita untuk bercermin: sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang setia?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115984028942672241?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115984028942672241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115984028942672241' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115984028942672241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115984028942672241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/bercermin.html' title='Bercermin'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115975174475322246</id><published>2006-10-02T07:47:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:18:56.510+07:00</updated><title type='text'>Mencari Kejernihan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seorang sahabat pernah berucap, "Ketika salah satu indera tidak lagi mampu difungsikan, justru kepekaan menjadi meningkat, mampu merasakan hal-hal yang tidak terlihat." Sebuah pernyataan yang hebat dan tidak dapat kusangsikan kebenarannya, sebab sahabatku ini memang orang yang luar biasa. Kuasa Tuhan telah mencabut kepekaan penglihatannya. Ia pun tidak lagi melihat dengan matanya, karena Tuhan telah menggantinya dengan kepekaan nurani. Terbukti, sahabat yang kukenal sebagai seorang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;smart&lt;/span&gt; dan bersemangat tinggi itu kini memiliki sesuatu yang berbeda: gairah untuk hidup yang mengagumkan. Sebuah penyakit menakutkan--jika memang ingin dianggap demikian--yang bersarang di kepalanya rupanya menyediakan medan perjuangan yang luas. Ia pun menjalani hidup dengan penuh senyuman dan ekspresi yang tidak pernah kulihat dulu. Dijalaninya keseharian dengan semangat belajar tinggi, diselingi beberapa rekan yang datang silih berganti menjadikannya tempat berbagi. Ya, banyak orang begitu mudah mencurahkan isi hati kepadanya sebab telinga dan hatinya memang menjadi lebih peka sekarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku yang satu ini selayaknya lebih pantas kusebut sebagai guruku. Mengingatnya semalam mengantarkanku pada puasa yang sedang kujalani. Mengapa ditutupnya mata membuat seseorang lebih bisa melihat ke 'dalam'? "Penglihatan mata hanyalah penglihatan semu dan artifisial," ujar sebuah suara dari dalam. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan mata dengan sebuah penutup, sebab ia memang alat pencari bukti yang sekunder. Tidak seperti telinga yang memang diciptakan demikian terbuka. Mata yang digunakan terlalu banyak menjadikan pemahaman kita cenderung dangkal sebab terlalu banyak bukti yang terlihat justru menyesatkan. Ditutuplah ia dan jernihlah maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan mata, begitu pulalah yang terjadi pada perut. Mengendalikan kemauan perut untuk diisi sejatinya adalah metode untuk mengajarkan manusia esensi dari hidup yang dijalaninya. Sudah jamak kita tahu bahwa beragam kerja dilakukan manusia, mulai dari yang halal sampai yang haram, tidak lain hanyalah untuk memenuhi kebutuhan seputar perut. Bergurulah pada Tuhan tentang puasa, dan kebutuhan sekitar perut ini akan dipaksa untuk dihentikan. Ketika itulah makna yang sebenarnya akan bermunculan dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keheningan," ujar seorang bijak, "datang untuk membukakan kita pintu kejernihan." Barangkali inilah sebabnya banyak orang mencapai kematang melalui keheningan. Shalat tahajud, meditasi, dan beragam metode perenungan lain umumnya dilakukan pada waktu malam sehingga tampaklah hakikatnya. Demikianlah pula puasa menciptakan keheningan pada perut kita. Dengannya kita dimungkinkan untuk menggapai kejernihan yang dijanjikan: takwa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115975174475322246?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115975174475322246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115975174475322246' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115975174475322246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115975174475322246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/10/mencari-kejernihan.html' title='Mencari Kejernihan'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115950456461451514</id><published>2006-09-29T11:33:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:20:35.020+07:00</updated><title type='text'>Bergerak dan Diam</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pagi ini aku tiba-tiba teringat pada salah satu kuliah yang pernah kuikuti. Dosenku ketika itu menceritakan pengalamannya menjadi subyek eksperimen ketika kuliah di Glasgow. Dalam eksperimen tersebut, ia diminta untuk tidur selama lebih dari 12 jam dengan mata diberi penutup dan seluruh tubuhnya dibalut sehingga tidak bisa bergerak. Lebih tepatnya ia memang tidak diperbolehkah untuk menggerakkan anggota badannya selama proses eksperimen tersebut. Apa yang terjadi kemudian adalah ia mulai mengalami berbagai halusinasi. Setelah eksperimen selesai pun, ia merasa kesulitan untuk langsung mengendalikan gerakan anggota tubuhnya. Seperti ada yang lepas dari kontrolnya ketika itu. Sambil berseloroh, ia mengatakan, "Barangkali inilah sebabnya pada zaman kuno dulu banyak orang-orang sakti yang mengaku mendapat wangsit setelah duduk bertapa berpuluh-puluh hari."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari betapa gelinya aku ketika mendengar selorohnya ketika itu, eksperimen itu memunculkan beberapa hal di pikiranku. Satu sisi, bergerak adalah fitrah asli manusia. Itulah salah satu makna diciptakannya debu. Sepintas, kita mungkin berpikir kalau debu tidak memiliki arti selain hanya mengotori saja. Namun misinya untuk selalu menempel di berbagai benda menjadikan kita senantiasa bergerak untuk membersihkannya. Tanpa gerak, tubuh manusia akan kehilangan sirkulasi yang berlangsung di dalamnya. Tidak mengherankan jika kemudian memunculkan berbagai ketidakseimbangan yang berujung pada penyakit. Jika dicermati lebih jauh, senantiasa bergerak membuat manusia memiliki harga diri sehingga mampu memenuhi kebutuhan akan eksistensi dirinya. Demikianlah yang terjadi pada ibuku beberapa bulan terakhir. Karena sudah mulai menjalankan usaha kue kecil-kecilan, berbagai keluhan sakitnya pun menurun drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain, berdiam diri pun juga memiliki sisi positif jika dikerjakan sesuai dengan porsinya. Berbagai kajian mengenai meditasi dan ritual ibadah sudah membuktikan hal ini. Dikatakan bahwa ketika kita berkonsentrasi penuh ketika meditasi atau pun khusyuk ketika menjalankan shalat maka akan muncul semacam kejernihan dalam hati dan pikiran kita. Mereka yang secara konsisten mampu menjalankannya mengakui munculnya kepekaan yang lebih tinggi terhadap berbagai hal yang mereka alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian aku teringat penuturan Quraish Shihab mengenai manusia sebagai makhluk pertengahan. Manusia tidak diciptakan dengan kepatuhan seperti malaikat, sehingga tidak mampu memahami berbagai fenomena alam dan mengembangkannya. Diperintahkan untuk berdzikir, ia berdzikir seumur hidupnya. diperintahkan untuk menjaga pintu dan ia akan menjaga pintu itu selamanya. Manusia juga tidak diciptakan seperti hewan yang hanya hidup mengikuti nalurinya. Perutnya bergejolak, dan makanlah ia. Saatnya musim kawin, dicarinyalah lawan jenis untuk diajak bereproduksi. Manusia diciptakan dengan kombinasi dari keduanya. Ia memiliki naluri alamiah, sekaligus kecenderungan untuk patuh dan tunduk pada Penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuat kedua pemikiran awal tadi menjadi masuk akal. Keduanya memang dua sisi yang berbeda tapi berada dalam obyek yang sama. Manusia harus terus bergerak untuk memenuhi misinya sebagai ciptaan paling mulia. Namun demikian, ia pun harus menghentikan langkahnya sesekali, terdiam dan merenungkan segala hal yang telah dilewatinya. Ketika itulah ia akan melihat cahaya Tuhan membimbingnya. Aku belajar keduanya dari shalat dan puasa. Kita bergerak ketika shalat, tapi juga terdiam tuma'ninah dalam setiap langkahnya. Kita tetap menjalani hidup ketika berpuasa, dan mendiamkan perut serta berbagai godaan lain. Hanya dengan bergerak kita bisa membuat perubahan. Namun hanya dalam diamlah suara Tuhan bisa terdengar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115950456461451514?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115950456461451514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115950456461451514' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115950456461451514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115950456461451514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/bergerak-dan-diam.html' title='Bergerak dan Diam'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115940410444812722</id><published>2006-09-28T07:02:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:23:00.450+07:00</updated><title type='text'>Aku Rindu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menjalani beberapa hari Ramadhan membuatku terkenang akan Ramadhan yang kujalani ketika aku kecil. Keriangan sepulang sekolah, bermain menunggu ashar, mandi sore, kemudian bersiap-siap menuju masjid untuk shalat maghrib. Kuingat betul betapa bersemangatnya aku ketika itu, sampai-sampai tidak satu shalat wajib pun yang kulewatkan tanpa berjamaah. Aku selalu duduk di shaf paling depan bahkan di belakang imam langsung, sehingga pernah satu kali aku 'diusir' ke belakang karena tempat itu diperuntukkan bagi ustadz pengisi ceramah. Begitu antusianya aku mendengar ceramah dan menuliskan ringkasannya di buku tugas dari sekolah. Betapa bangganya aku sebab satu bulan, aku bisa meng-khatam-kan Al Qur'an hingga 3 kali. Gairahku begitu menggebu-gebu meskipun aku belum memahami esensi dari tiap hal yang kukerjakan selain hanya ritual ibadah yang mengandung banyak pahala.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sesuatu yang amat berbeda dengan yang kujalani beberapa tahun belakangan. Seperti ada penurunan yang amat drastis baik dari segi kuantitas maupun kualitas ibadah yang kujalani. Tidak lagi aku sesemangat dulu ketika melangkah ke masjid. Tidak lagi aku mampu menangis saat membaca sura Ar-Rahman. Tidak lagi aku merasakan energi yang luar biasa mengalir membawaku seolah terbang setiap kali kubaca surat adalam shalat. Memang pemikiranku sudah jauh berkembang. Aku sudah mampu menarik makna dan hakikat setiap ritual yang dijalani oleh seorang Muslim, sekaligus mengaitkannya ke dalam kehidupanku yang lain. Hanya saja sesekali kurasakan kehampaan yang amat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menentramkan hatiku. Pernah kubaca bahwa sahabat Ali pernah mengatakan, "Iman itu naik turun. Kejarlah ibadah sebanyak-banyaknya ketika ia sedang naik. Sempurnakanlah yang wajib saja ketika memang ia sedang menurun." Barangkali sekarang imanku sedang turun, tapi kapankah kiranya ia akan kembali menanjak? Aku sungguh merindukan saat-saat itu...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115940410444812722?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115940410444812722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115940410444812722' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115940410444812722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115940410444812722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/aku-rindu.html' title='Aku Rindu'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115931698756430591</id><published>2006-09-27T07:29:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:25:20.026+07:00</updated><title type='text'>Belajar Memberi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"Makin banyak memberi, makin banyak menerima," begitu kata banyak ungkapan bijak. Di bulan puasa ini, falsafah ini semakin terasa penting sebab bermacam ragam fasilitas telah disediakan guna menjadikan kebiasaan memberi semakin menjamur. Sebutlah buka puasa bersama di setiap masjid, misalnya. Di beberapa komplek perumahan, pengurus masjid biasanya bahkan sudah menyusun jadwal warga yang akan menyumbang hidangan buka puasa agar jumlah yang disediakan pas, tidak kurang tidak lebih. Menjelang berbuka, diundanglah para warga yang merasa membutuhkan untuk berbondong-bondong datang kesana. Orang-orang yang berhasrat menyumbang namun belum kebagian jadwal (dan memiliki banyak dana tentunya) umumnya mengadakan sendiri buka bersama dengan mengundang anak yatim piatu. Selain itu, para pengurus lembaga zakat pun tak kalah serunya dalam kampanye memberi yang satu ini. Beraneka macam paket model pembayaran zakat pun disediakan untuk memudahkan masyarakat menyalurkan hartanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan kebiasaan seperti ini menarik bagiku, terutama karena tidak lama setelah Ramadhan selesai kebiasaan ini pun berlalu begitu saja. Tidak heran sih, sebab hanya di bulan puasa lah Tuhan menjanjikan limpahan pahala yang tak terhitung plus dilipatgandakan lagi untuk mendorong manusia agar giat beramal. Masyarakat yang ekonomis tentunya amat sensitif dengan perhitungan untung rugi seperti ini. "Ayo shalat sunnah, kan pahalanya seperti shalat wajib," atau, "Ayo ngaji, kan pahalanya dihitung per huruf lho," demikian yang sering kita dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pandangan yang salah memang, hanya saja menurutku terlalu sempit. Memang kita umumnya sudah mengalokasikan dana selama setahun untuk disumbangkan pada bulan puasa, tapi menyumbangkan harta kan bukan satu-satunya cara untuk beramal. Bukankah kita diajarkan bahwa senyum itu ibadah? Jauh lebih dalam dari sekedar menyumbang makanan, senyum bahkan bisa mengantarkan ketentraman hati pada orang-orang yang melihatnya. Lalu mengapa pula setelah puasa kita tidak coba untuk berjanji untuk selalu memberikan kesempatan kepada orang lain terlebih dulu ketika berkendara di jalan raya? Bukankah ini juga amal, apalagi jika ternyata orang tersebut memang terburu-buru atau sakit. Mendengarkan orang lain dengan tulus, memberikan dukungan kepada tetangga yang kesusahan, merapikan sandal di pelataran masjid, atau menyingkirkan kotoran dari jalanan dan lain sebagainya adalah ladang amal yang teramat luas dan belum banyak terjamah dibandingkan dengan sumbangan dana dan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, aku tidak sedang mengatakan bahwa sumbangan yang sifatnya fisik itu jelek. Hanya saja, tolok ukur keberhasilan ibadah justru dapat dilihat dari bagaimana ibadah itu membentuk pribadi tiap insan yang menjalaninya. Itulah sebabnya dalam syahadat--titik pertama seseorang beragama--dimulai dengan mengucap nama Allah kemudian diikuti dengan kesaksian terhadap Rasul. Agama yang memerintahkan umatnya untuk berpuasa ini bukan agama 'langit'. Penyembahan kepada Tuhan harusnya melahirkan kemuliaan dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115931698756430591?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115931698756430591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115931698756430591' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115931698756430591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115931698756430591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/belajar-memberi.html' title='Belajar Memberi'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115923399238797009</id><published>2006-09-26T07:20:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T15:42:15.936+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan dan Harga Naik</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ibuku baru saja mengeluh, "Harga pisang mahal banget. Baru aja naik!" Sebuah keluhan yang tak lama kemudian kudengar lagi dari beberapa orang rekanku yang juga mengatakan bahwa harga ayam dan daging mulai merangkak meninggalkan tempat berpijak stabilnya selama bulan-bulan belakangan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku tidak heran dengan fenomena seperti ini. Sudah jamak bertahun-tahun bahwa bulan puasa memiliki salah satu arti lain: kenaikan harga. Bukan salah pada pedagang sih, karena permintaan meningkat, stok menjadi sedikit, ya akhirnya harga lah yang dinaikkan (atau naik) dengan sendirinya. Permintaan meningkat karena justru di bulan puasa lah orang seperti mendapat pembenaran untuk mencoba beragam makanan atau cemilan lebih dari yang biasa mereka konsumsi sehari-hari. Kolak, es buah, es cendol, dan kawan-kawan yang umumnya hanya bisa kita temukan di pasar, pusat perbelanjaan atau kondangan, kini menjamur di tiap meja makan di tiap rumah. Ditambah dengan menu makanan sedap bin enak plus kue kering maupun basah, lengkap sudah buka puasa di hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun kemudian menjadi penasaran: demikiankah seharusnya kita menjalani puasa? Sebuah pertanyaan yang aku pun sudah tahu tidak perlu dijawab. Apalah gunanya menahan lapar dan dahaga seharian jika kemudian hanya dalam sejenak berbuka dan tanggul itu telah dijebol oleh berkilo-kilo makanan? Bukankah lapar dan haus sejatinya melahirkan keinginan untuk berbagi? Bukankah hasrat pemenuhan syahwat harusnya menjadi titik awal untuk mencintai dengan tulus dan tanpa syarat? Bukankah setiap suapan dan tetes air yang melewati kerongkongan mestinya menghantarkan pemahaman akan syukur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari dalam lubuk hatiku menjawab, "Ya!" Dengan inilah Tuhan mengajari kita untuk menjadi manusia yang merdeka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115923399238797009?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115923399238797009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115923399238797009' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115923399238797009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115923399238797009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/ramadhan-dan-harga-naik.html' title='Ramadhan dan Harga Naik'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115914716613192814</id><published>2006-09-25T07:03:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T16:16:47.000+07:00</updated><title type='text'>Puasa dan Keberlangsungan Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku amat gembira dengan puasa Ramadhan hari pertamaku di tahun ini. Setelah seharian menahan tidak dipusingkan untuk makan dan minum, malam hari ternyata masih menyisakan kenikmatan yang luar biasa ketika beragam makna bermunculan dari berbagai hal yang kulewati di hari itu. Semuanya berawal ketika tanpa sengaja aku melihat judul buku tulisan Hernowo: Spirit Iqra'. Aku memang belum sempat membaca tulisan di dalamnya, namun spirit menulis 30 hari nonstop yang sedang digaungkannya menyentil kepalaku untuk turut 'membaca' pengalamanku seharian ini. Sejurus kemudian aku pun mendapati imajinasiku melayang dan turun membawa beberapa serpihan makna.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya. Aku menemukan bahwa dengan berpuasa aku turut menjaga keberlangsungan kehidupan di dunia. Bagaimana bisa? Tentu bisa. Begini ceritanya. Agar dapat bertahan hidup, Tuhan menganugerahi alam dengan kemampuan untuk selalu menjaga keseimbangan alias homeostatis kata para cendikiawan. Lihat saja, misalnya, tubuh kita. Akibat kelelahan dan pola hidup serta pola makan yang kurang sehat, tubuh pun merespon dengan menjadikan dirinya sakit flu. Sejumlah ingus pun meler keluar dari hidung disertai bersin atau batuk berdahak demi mengeluarkan beragam virus yang telah menumpuk tak terbendung di dalam tubuh kita. Inilah hasil yang kita dapat ketika kita tidak pernah berolahraga cukup sehingga aneka penyakit yang mustinya dikeluarkan melalui proses olahraga (disamping untuk menjaga stamina juga sih) terus tertimbun dan akhirnya dimuntahkan oleh tubuh kita. Sebuah contoh keseimbangan yang sempurna bukan? Hal yang sama terjadi ketika untuk pertama kalinya seseorang belajar merokok. Jika belum terbiasa, tubuh pasti menolak asap racun itu dengan membuatnya terbatuk-batuk. Karena dibiasakanlah (baca: dipaksakan) tubuh pun akhirnya menurut dan mencoba untuk mencari keseimbangan baru. Hampir semua penyakit yang timbul dalam tubuh kita muncul akibat keseimbangan yang dipaksakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan lingkungan dan masyarakat? Tengoklah dari mulau gempa bumi, longsor, banjir, sampai semburan lumpur. Semuanya hanyalah usaha alam untuk mencari keseimbangan baru. Cermati pula bagaimana peradaban berubah dari generasi ke generasi. Sebuah gaya hidup baru yang pada kemunculan perdananya dicerca dan dimaki toh akhirnya diterima jua setelah secara konsisten dikampanyekan. Jangan lupa pula untuk melihat bagaimana pada akhirnya korupsi, kolusi, dan demonstrasi yang menentang keduanya pun menjadi sesuatu yang biasa, dimaklumi, dan disepelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan muncul: mengapa alam selalu mencari keseimbangan? Jawabnya sederhana: berada dalam keadaan tidak seimbang itu memakan banyak energi. Cobalah berdiri dengan satu kaki selama 1 menit saja. Bagi kita yang tak terbiasa tentu merupakan suatu siksaan yang luar biasa melelahkan. Demikianlah pula yang terjadi pada alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan puasa? Setidaknya ada beberapa manfaat puasa yang kutemukan dalam rangka menjaga keseimbangan alam. Pertama secara fisik dan kedua secara sosial. Secara fisik, kita sudah tahu bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Dalam hal makanan saja puasa sudah memiliki peran dalam menjaga kuantitas makanan yang dimasukkan ke dalam perut manusia. Jika ada 1 orang dengan porsi makan besar berpuasa selama 30 hari penuh, bayangkan bahan makanan yang dapat dikumpulkan dan dibagikan kepada korban kelaparan di Afrika dengan 1 milyar penduduk bumi yang berpuasa. Setelah 11 bulan hidup dalam ketidakseimbangan, setidaknya ada 1 bulan yang membuat keseimbangan itu kembali. Secara sosial, kita juga paham bahwa esensi puasa justru terletak pada aplikasi menahan diri dalam konteks hubungan antar manusia. Satu orang saja belajar menjadi lebih sabar, lebih pemurah, lebih konsisten; bayangkan lagi bagaimana perdamaian dunia dapat tercipta dengan semua orang berpuasa. Lagi-lagi, setelah 11 bulan berjalan tak tentu arah, puasa memfokuskan kita untuk menjalani ibadah yang amat rahasia sebab tidak seorang pun yang tahu sebaik apa puasa kita kecuali kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah bukan? Filosofi puasa tidak hanya menahan untuk kepentingan pribadi (baca: takut dosa karena tidak menjalankan ibadah) tapi juga menjaga keberlangsungan hidup generasi mendatang. Wow, benar-benar metode ibadah yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115914716613192814?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115914716613192814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115914716613192814' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115914716613192814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115914716613192814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/puasa-dan-keberlangsungan-hidup.html' title='Puasa dan Keberlangsungan Hidup'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115889082209975976</id><published>2006-09-22T09:06:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T16:45:09.516+07:00</updated><title type='text'>Mengikis Nurani</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sekalipun bukan siswa yang pandai, sejak kecil nilai-nilaiku tidak pernah terlalu buruk. Ya, sedang-sedang saja lah. Dari SD berlanjut ke SMP aku menjalani kehidupan sebagai siswa yang baik (baca: belajar sesuai ketentuan untuk mendapatkan nilai yang bagus). Alhasil, meskipun bukan siswa terbaik, paling tidak aku selalu masuk dalam deretan sepuluh besar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perubahan besar terjadi ketika aku SMU. Keasyikan berekstrakurikuler ria membuat frekuensi dan intensitas belajarku menurun. Saat itulah untuk pertama kalinya aku belajar perilaku yang amat nista bagi seorang pelajar: mencontek. Mulai dari mencontek teman (yang dengan sukarela memberikan jawabannya kepadaku) sampai menyalin dari buku pelajaran yang kuletakkan di laci meja. Di kelas 1 aku sempat menyadari bahwa dengan cara seperti ini nilai-nilaiku tidak pernah bagus--tidak pernah aku memperoleh nilai lebih dari 7 untuk setiap ujian yang aku mencontek di dalamnya. Baru di kelas 3 lah akhirnya aku berhasil berhenti selamanya. Mengapa begitu lama? Aku tidak tahu. Hanya rasanya amat sulit untuk keluar dari kebiasaan yang seolah-olah menghisapku dengan amat dalam itu. Tidak peduli betapa orang tuaku banting tulang untuk membiayai sekolahku, tidak peduli betapa keras setiap guru mempersiapkan pelajaran setiap harinya, tidak peduli berapa banyak orang yang berjuang untuk dapat duduk dan belajar di tempat dudukku, aku mencontek kedamaian di masa-masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang mirip terjadi kemudian padaku ketika untuk pertama kalinya aku belajar untuk melanggar lampu merah dan berputar arah pada tempat yang tidak diperbolehkan. Hanya jika ada polisi yang tampak mengancam sajalah aku tidak melakukan perilaku terlarang itu. Sebuah perilaku yang amat sulit kuhapuskan meski sudah berlalu bertahun-tahun. Tidak peduli berapa banyak orang yang mungkin celaka karena perilakuku (ditambah akibat yang mungkin timbul pada keluarga mereka) aku tetap melaju dan tersenyum senang ketika berhasil melewatinya dengan 'selamat'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang pengalaman-pengalaman ini membuatku semakin perhatian pada orang-orang di sekelilingku. Para perokok salah satunya. Setiap mereka sudah tahu dan paham betul bahaya yang mengancam dalam setiap hisapannya, namun tidak satu pun yang begitu mudah menghentikannya meski sudah amat ingin. Saking kecanduannya, sudah tidak mengherankan lagi kalau para perokok itu tidak pernah memandang tempat jika ingin melampiaskan hasrat menghisapnya. Di dalam ruangan ber-AC atau angkutan umum yang pengap sekalipun mereka akan menghembuskan asap mematikan itu dengan wajah tampak lega, rileks, santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan perbuatan baik yang akan membukakan jalan lapang menuju kebijaksanaan, perbuatan buruk akan menjadikan kita masuk semakin dalam pada jurang kenistaan. Sebuah peringatan waspada muncul dalam benakku belakangan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berhati-hatilah dengan perbuatan buruk, karena ia akan mengikis nuranimu sedikit demi sedikit&lt;/span&gt;. Suara lain menyahut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waspadalah dengan kebiasaan yang sedang kamu pupuk&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115889082209975976?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115889082209975976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115889082209975976' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115889082209975976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115889082209975976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/mengikis-nurani.html' title='Mengikis Nurani'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115871484038737633</id><published>2006-09-20T07:33:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T17:16:00.103+07:00</updated><title type='text'>Senyum dan Jalan Raya</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dua tahun pertama aku mengendarai motor, aku amat jarang berjalan terlalu jauh dari rumah dan sekolah. Aku merasakan situasi jalanan yang cukup stabil ketika itu, karena memang jalan-jalan di sekitar rumahku tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang mengejutkan ketika selepas SMU aku pindah ke Jogja, sebuah kota yang konon merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;icon&lt;/span&gt; budaya di Jawa. &lt;span class="fullpost"&gt;Sebagaimana umumnya pandangan terhadap orang Jawa (aku pun keturunan orang Jawa), aku pun menilai bahwa masyarakatnya pastilah orang-orang yang amat ramah dengan budaya saling menghargai yang tinggi. Aku katakan mengejutkan sebab tak berapa lama aku mengendarai motor disana, aku merasa cukup sulit ketika akan membelok dari jalan raya menuju gang tertentu. Kalau di Jakarta aku cukup menyalakan lampu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sign&lt;/span&gt; dan membelokkan sedikit stang motor maka orang-orang di hadapanku sudah memberikan jalan, di Jogja cara seperti ini tidak bisa bekerja. Bahkan ketika aku sudah hampir mencapai mulut gang pun, masih saja ada motor yang menyelinap di hadapan sehingga mengagetkanku (belakangan kuperhatikan banyak kecelakaan di Jogja terjadi dengan cara seperti ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ingatan itu memantik pertanyaanku: mengapa senyum yang begitu ramah di jalan-jalan perumahan tampak amat menyeramkan di jalan raya? Keganasan yang sama memang juga terjadi di Jakarta, hanya saja aku melihat 'mata lapar dan lelah' dalam sorot pandangan mereka--sesuatu yang tidak kulihat di Jogja. Rasa penasaran sedikit terjawab ketika aku membaca tulisan Pramoedya dalam tetraloginya. Kurang lebih ia mengatakan bahwa orang Jawa saat ini kebanyakan hanya memahami budaya Jawa sebagai ritual, dan melupakan esensinya. Cerita-cerita, dongeng, dan berbagai kisah dilihat sebagai mistik kehebatan bin kesaktian masa lalu, dan tidak dimaknai sebagai petunjuk jalan untuk kehidupan yang lebih baik. Sangat wajar jika kemudian senyuman dipandang sebagai cara untuk menutupi niat dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ewuh pekewuh&lt;/span&gt; menjadi pembenaran untuk mendiamkan perbuatan rusak masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...sejurus kemudian aku bertanya lagi: mencermati gaya hidupku, budaya apa ya yang sedang kupraktekkan sekarang?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115871484038737633?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115871484038737633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115871484038737633' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115871484038737633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115871484038737633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/senyum-dan-jalan-raya.html' title='Senyum dan Jalan Raya'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115828001818860488</id><published>2006-09-15T07:01:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T17:06:45.316+07:00</updated><title type='text'>Sepatu Merah dan Red Shoes</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;"Bahasa menunjukkan bangsa". Begitu yang sering kudengar. Artinya kurang lebih adalah bahwa sikap, perilaku, cara berpikir masyarakat amat mudah dicermati dari bahasa yang mereka gunakan. Semakin teratur dan tertata bahasanya, demikian pulalah orang-orang yang menggunakannya. Mengingat tulisan Masaru Emoto dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The True Power of Water&lt;/span&gt;, wajar kiranya jika memang demikian. Kata-kata yang kita keluarkan akan beresonansi dengan hal-hal di sekitar kita termasuk dengan diri kita sendiri. Ucapkan sesuatu yang baik maka tubuh kita akan merespon dengan membentuk diri yang baik pula. Katakanlah sesuatu yang buruk, dan amat wajar jika reaksi wajah seseorang akan berubah seketika kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal bahasa, aku baru saja terpikir mengenai susunan kalimat yang menjadi pedoman dalam bahasa Indonesia. Seingatku sih, dulu aku belajar kalau bahasa kita menggunakan patokan DM alias diterangkan-menerangkan dalam menyusun frase--sesuatu yang berkebalikan dengan bahasa Inggris yang memakai MD atau menerangkan-diterangkan. Kita biasa mengatakan sepatu merah untuk membandingkannya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;red shoes&lt;/span&gt; dalam bahasa Inggris. Sepintas, tidak ada yang istimewa memikirkan hal ini. Hanya saja, belakangan aku belajar bahwa hal yang paling mudah diingat adalah hal yang paling akhir diucapkan. Coba saja pikirkan kalimat, "Jangan pergi!". Pastilah yang justru terngiang-ngiang adalah kata pergi dan bukannya kata jangan. Alhasil, esensi dari kalimat larangan itu justru kurang dapat tertangkap secara tepat. Dengan menggunakan MD, bahasa Inggris membuatku lebih mudah menangkap esensi sepatu dalam frase &lt;span style="font-style: italic;"&gt;red shoes&lt;/span&gt;. Sementara jika ada orang mengatakan sepatu merah, yang kutangkap adalah merah-nya, dan esensi sepatunya menguap begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir-pikir, inilah barangkali yang menyebabkan aku sebagai orang Indonesia begitu mudah terpengaruh oleh berbagai pemikiran dan budaya orang lain. Sialnya, yang kutangkap hanyalah luarnya, kerennya, megahnya, atau pendek kata hasil akhirnya saja. Jadilah aku orang Indonesia yang sok Barat tapi tidak sejajar dengan mereka. Jelas saja, karena aku lupa untuk menangkap esensi bahwa mereka mencipta, mendahulu, menemu, berkutat dengan segala ketidaktahuan, bergumul dengan beragam kesulitan, dan segala usaha keras lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir-pikir lagi, haruskah aku mengganti bahasa yang kugunakan? Mm...kurasa tidak. Cukuplah aku cari kebijaksanaan di dalamnya, sesuatu yang kuyakin ada namun belum kulihat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115828001818860488?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115828001818860488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115828001818860488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115828001818860488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115828001818860488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/sepatu-merah-dan-red-shoes.html' title='Sepatu Merah dan Red Shoes'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115822238975162447</id><published>2006-09-14T14:59:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T17:08:28.003+07:00</updated><title type='text'>Ketakutan dan Keberanian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tiba-tiba aku teringat salah seorang keponakanku yang tidak pernah bisa diam. Dulu, ia suka sekali naik turun tangga rumahku dengan kecepatan tinggi padahal keseimbangannya belum terjaga. Setiap kali aku harus menemaninya ketika ia ingin naik ke lantai atas, sampai satu ketika ia tiba-tiba minta turun dengan ketakutan. Kata kakakku sih, di atas memang ada jin yang menunggu, dan anak kecil umumnya memiliki kemampuan untuk melihat mereka. Sejak itu, aku yang biasanya santai saja ketika harus naik ke atas menjadi sering deg-degan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tahun pertama aku mengendarai motor, aku tidak pernah berkendara dengan kecepatan di bawah 80 km/jam. Mau tahu kecepatanku sekarang? 60 km/jam hanya jika itu jalan yang lengang, lapang, dan aku sedang buru-buru. Apa sebabnya? Di tahun pertama itu pulalah untuk pertama kalinya (dan kuharap terakhir kalinya) aku tahu bagaimana rasanya jatuh karena menabrak motor orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik mengingat hal-hal seperti ini, karena tidak saja mengajarkanku untuk berhati-hati melainkan juga hal lain yang lebih berharga: ketidaktahuan justru membuat cakrawala kita luas tak berbatas. Jika saja tidak melihat jin, keponakanku barangkali sudah menjadi pelari naik-turun tangga tercepat di dunia. Atau, seandainya aku tidak pernah menabrak orang dan jatuh dari motor mungkin aku sudah menjadi pembalap paling berani yang terkenal. Ha..ha..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115822238975162447?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115822238975162447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115822238975162447' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115822238975162447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115822238975162447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/ketakutan-dan-keberanian.html' title='Ketakutan dan Keberanian'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115822074062062444</id><published>2006-09-14T14:31:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T17:11:22.770+07:00</updated><title type='text'>Pengalaman Pertama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Waktu kecil aku tidak pernah keberatan untuk berbagi gelas minuman dengan orang lain. Semuanya berubah ketika satu saat kakakku melihatku meminum sirup dari gelas seorang tamu yang berkunjung ke rumah. Ia pun menakut-nakutiku bakal tertular penyakit kalau kebiasaanku seperti itu. Kawan-kawanku amat suka makan di salah satu tempat makan dekat kantor, sebuah tempat yang tidak kusuka karena sekali waktu tempat itu pernah menyajikan makanan yang agak basi. Keponakanku tidak pernah takut kepada hewan semenjak lahir, sampai satu saat pengasuhnya seringkali menakut-nakutinya akan digigit kucing jika tidak mau disuapi. Jadilah ia amat jijik dengan kucing sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang tidak pernah berani mencoba karena pernah gagal pada pengalaman pertama. Semuanya memberiku pelajaran berharga: berhati-hatilah dengan pengalaman pertama. Bukan berarti harus sempurna saat pertama kali, namun bagaimana pengalaman pertama itu kita jadikan sebagai pelajaran berharga di kemudian hari. Yap, ada yang mengatakan bahwa pengalaman bukanlah kejadian yang kita alami, melainkan makna yang kita berikan terhadap kejadian itu. Aku setuju dengan yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115822074062062444?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115822074062062444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115822074062062444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115822074062062444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115822074062062444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/pengalaman-pertama.html' title='Pengalaman Pertama'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115819693228296604</id><published>2006-09-14T07:56:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T17:12:56.766+07:00</updated><title type='text'>Bentuk Yang Terbaik</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Beberapa hari yang lalu aku membaca tulisan Gede Prama. Di dalamnya ia berkata, "Tuhan menciptakan setiap hal dalam bentuk yang terbaik." Wow! Sungguh sebuah kalimat yang menusuk pikiranku. Betapa tidak, ketika kecil aku ingin mobil-mobilan yang bisa kutarik dengan tali untuk kubawa berlari bersama teman-teman. Begitu mendapatkannya, aku pun menginginkan mobil-mobilan lain yang bisa digerakkan dengan remote control. Baru beberapa tahun kemudian aku mendapatkannya, tapi tak lama kemudian aku pun sudah menginginkan mobil-mobilan yang bisa kukendarai.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mengingat pengalaman ini membuatku berpikir, keinginan seperti ini tidak pernah berhenti sampai sekarang. Belum mendapat pekerjaan, aku ingin bekerja. Baru saja mendapat beberapa order pekerjaan, aku ingin bekerja dengan lebih teratur di perusahaan besar. Sudah bekerja di perusahaan besar, aku masih tak puas dan ingin pekerjaan yang lebih menantang dengan gaji besar. Kata-kata Gede Prama tadi begitu menusuk karena ia datang tepat ketika keinginanku yang terakhir ini datang begitu menggebu-gebu. Ia mengingatkanku akan hakikat yang sesungguhnya dari bersyukur: "Tuhan menciptakan segalanya dalam bentuk yang terbaik, tidakkah kamu melihatnya?" demikian seolah ia ingin berujar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Aku memang pernah sedikit terpengaruh dengan perkataan seorang sahabat dahulu. "Hidup adalah sebuah pencarian," katanya. Sebuah kalimat yang membuatku tertegun ketika itu, sebab bernada filosofis nan bijaksana. Hmm...baru kini kusadari bahwa tidak ada yang perlu dicari. Semuanya hanya perlu disambut dan dilihat dengan mata yang lebih jernih. Karena aku sudah diciptakan sebagai yang terbaik, saatnya untuk menjadikannya benar-benar terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115819693228296604?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115819693228296604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115819693228296604' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115819693228296604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115819693228296604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/bentuk-yang-terbaik.html' title='Bentuk Yang Terbaik'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34307119.post-115810862362596336</id><published>2006-09-13T07:26:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T17:14:22.316+07:00</updated><title type='text'>Belajar Bersyukur</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pernah satu kali aku merasa aku tidak mampu berbicara dengan baik di hadapan banyak orang. Seorang guru kemudian menyuruhku berpidato di perpisahan kelas kami, dan aku bisa melakukannya. Pernah pula aku berpikir aku tidak memiliki keahlian untuk memimpin orang lain dengan baik. Bertahun-tahun kemudian aku 'dipaksa' memimpin sebuah tim yang terdiri dari orang-orang terbaik, dan bagiku itu sebuah kesuksesan besar. Pernah lagi aku jatuh dan merasa amat sulit untuk bangkit lagi. Seorang sahabat memberikan pencerahan bagiku, dan aku pun bangkit jauh lebih kuat dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cukup aku sering merasa aku tidak bisa melebihi diriku yang sekarang, kemudian memilih berpikir untuk mensyukuri apa yang kumiliki saat ini. Mengingat kembali apa yang pernah kualami, sepertinya ini bukanlah hal yang benar. Yang benar adalah aku seringkali tidak pernah menyadari apa yang aku punya, sehingga hidupku seperti mati suri dan hanya mengikuti arus air mengalir. Ketika ia tiba-tiba membangunkanku, barulah aku melihat apa yang sesungguhnya sudah ada dalam diriku. Kebutaankulah yang hakikatnya membuatku masih belum beranjak dari tempat tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang dengan cara yang sama, maka aku pun akan selalu melihat hal yang sama. Ya, sebab bersyukur bukanlah lagi menerima apa adanya, melainkan mengoptimalkan apa yang sudah ada untuk menggapai apa yang belum ada. Aku ingin memandang dengan cara seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34307119-115810862362596336?l=teddibelajarbersyukur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/feeds/115810862362596336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34307119&amp;postID=115810862362596336' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115810862362596336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34307119/posts/default/115810862362596336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teddibelajarbersyukur.blogspot.com/2006/09/belajar-bersyukur.html' title='Belajar Bersyukur'/><author><name>Rumah Kiyut</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09323795818075615348</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
